Dobo, Beritajar.com: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepulauan Aru menyiapkan Rumah Tunggu Kelahiran sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu hamil, terutama mereka yang berasal dari wilayah sulit dijangkau dan membutuhkan persalinan di fasilitas kesehatan rujukan di Dobo.
Fasilitas yang berlokasi di sekitar Rumah Sakit Cenderawasih Dobo tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperpendek jarak tempuh ibu hamil menuju fasilitas kesehatan sekaligus mengurangi risiko keterlambatan penanganan ketika terjadi kondisi darurat persalinan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kepulauan Aru, H. Muhardin Muin, SKM, M.K.M, saat ditemui di Dobo, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, Rumah Tunggu Kelahiran dapat dimanfaatkan ibu hamil sekitar tujuh hari sebelum melahirkan hingga tujuh hari setelah melahirkan. Dengan tinggal lebih dekat dengan rumah sakit, kondisi ibu dapat dipantau secara lebih intensif dan penanganan medis dapat dilakukan dengan cepat apabila dibutuhkan.
“Rumah tunggu kelahiran ini merupakan strategi efektif untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mengurangi risiko keterlambatan penanganan darurat,” kata Muin.
Ia menjelaskan, terdapat tiga fungsi utama Rumah Tunggu Kelahiran. Pertama, mendekatkan akses ibu hamil dengan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan. Kedua, mengurangi risiko yang dapat terjadi selama perjalanan dari desa menuju kota. Ketiga, memungkinkan kondisi ibu hamil dipantau secara intensif menjelang persalinan.
Selain fungsi tersebut, rumah tunggu juga memberikan manfaat langsung bagi pasien dan keluarga. Di antaranya membantu mencegah risiko kematian ibu, mempercepat pertolongan ketika terjadi kondisi darurat, serta meringankan beban biaya transportasi pasien.
Muin mengungkapkan, keberadaan rumah tunggu dilatarbelakangi masih adanya ibu hamil dengan risiko persalinan yang tinggal di wilayah sulit dijangkau. Kondisi geografis Kepulauan Aru membuat sebagian masyarakat menghadapi kendala ketika harus menjalani rujukan ke Dobo.
Tak hanya itu, menurutnya, terdapat sejumlah alasan yang menyebabkan pasien terkadang enggan dirujuk. Di antaranya tidak memiliki tempat tinggal di kota, tidak mempunyai biaya makan dan minum selama berada di Dobo, serta keterbatasan biaya transportasi menuju rumah sakit.
“Karena itu rumah tunggu ini hadir untuk menjawab kendala tersebut, sehingga ibu hamil yang membutuhkan rujukan tidak lagi terbebani persoalan tempat tinggal, konsumsi maupun transportasi,” jelasnya.
Rumah Tunggu Kelahiran tersebut dilengkapi beberapa kamar tidur. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi dan satu tempat tidur sehingga pasien dapat tinggal dengan lebih nyaman selama masa persiapan persalinan.
Selain tempat tinggal, dukungan kebutuhan makan dan minum juga disediakan. Fasilitas tersebut turut memberikan dukungan bagi dua orang pendamping pasien selama pasien menjalani perawatan di rumah sakit.
Dukungan transportasi juga menjadi bagian dari layanan. Pasien dari desa menuju kota sebagai pusat rujukan mendapatkan pembiayaan transportasi pergi-pulang.
Seluruh pembiayaan program tersebut menggunakan anggaran DAK Nonfisik Tahun 2026.
Kabid Kesmas ini juga menegaskan, Rumah Tunggu Kelahiran tidak diperuntukkan bagi seluruh pasien. Fasilitas tersebut secara khusus diprioritaskan bagi ibu hamil dan keluarga yang sedang mempersiapkan proses persalinan.
“Rumah tunggu ini memang diprioritaskan untuk pasien dan keluarga yang mempersiapkan untuk melahirkan,” tegasnya.
Dari sisi lokasi, Rumah Tunggu Kelahiran Kepulauan Aru berada di samping RSUD Cendrawasih Dobo. Penempatan tersebut dinilai strategis karena memperpendek jarak antara tempat tinggal sementara ibu hamil dengan fasilitas kesehatan tempat persalinan dan penanganan medis dilakukan.
Lokasinya juga masyarakat dapat mengaksesnya dari bagian depan RSUD maupun melalui bagian belakang dengan melewati jalan di sekitar SPBU Kompak.
Dengan hadirnya Rumah Tunggu Kelahiran, pihaknya berharap ibu hamil dari wilayah sulit tidak lagi menghadapi keterlambatan penanganan hanya karena persoalan jarak, transportasi, tempat tinggal maupun biaya selama berada di kota.
Program ini diharapkan mampu memperkuat sistem rujukan kesehatan ibu dan bayi di Kepulauan Aru sekaligus memastikan ibu hamil mendapatkan pelayanan kesehatan secara lebih cepat, aman dan tepat waktu, terutama ketika menghadapi persalinan berisiko.






