Dobo, Beritajar.com: Sebanyak 35 titik kebakaran terjadi di wilayah Pulau Wamar, Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, sejak 10 Agustus hingga 8 September 2026. Kebakaran didominasi oleh kebakaran lahan dan sampah yang dipicu kondisi lingkungan kering selama musim kemarau.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kepulauan Aru, Fredik Hendrik, mengatakan dari total 35 kejadian tersebut, sebanyak 27 titik kebakaran terjadi sepanjang Agustus 2026, sementara delapan kejadian lainnya terjadi pada September hingga 8 September.
“Untuk bulan Agustus, berdasarkan data yang kita miliki ada 27 titik lokasi kebakaran yang berhasil dipadamkan personel Damkar dengan dibantu masyarakat. Sementara September ini saja sudah delapan kali terjadi kebakaran,” ujarnya, Rabu (9/9/2026)
Menurutnya, tingginya kejadian kebakaran saat ini tidak terlepas dari kondisi cuaca yang panas dan minimnya curah hujan. Kondisi tersebut membuat rumput, semak belukar serta vegetasi di lahan menjadi kering sehingga sangat mudah terbakar.
Apabila tidak segera ditangani, api dapat dengan cepat menjalar dan meluas ke area lainnya, terutama pada lahan perkebunan dan kawasan yang banyak ditumbuhi rumput kering.
Selain kebakaran lahan, kebakaran sampah juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran di sejumlah lokasi. Pembakaran sampah yang dilakukan tanpa pengawasan dapat menyebabkan api merembet ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Hendrik menyebutkan, selama rangkaian kejadian kebakaran sejak Agustus hingga awal September tersebut, tidak terdapat korban jiwa. Namun, sejumlah lahan perkebunan masyarakat ikut terdampak, termasuk tanaman seperti pohon sagu, kelapa dan vegetasi lainnya yang hangus terbakar.
Untuk mencegah kejadian serupa terus meningkat, pihak Damkar Aru terus melakukan sosialisasi dan memberikan imbauan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan pembakaran lahan maupun sampah.
“Kita terus giat menyampaikan sosialisasi dan imbauan kepada seluruh masyarakat agar tetap berhati-hati membakar lahan perkebunan baru, karena kondisi saat ini sangat rentan sekali terbakar,” katanya.
Hendrik juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap aman lokasi yang sebelumnya merupakan genangan air atau rawa. Menurutnya, kondisi kemarau membuat sejumlah lokasi tersebut kini mengalami kekeringan sehingga mudah terbakar.
“Lokasi yang sebelumnya genangan air atau rawa, kini semuanya kering dan sangat mudah terbakar jika tidak hati-hati saat membakar lahan baru atau membakar sampah,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, dirinya mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak meninggalkan api dalam keadaan menyala, terutama saat melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan. Pencegahan sejak awal dinilai penting untuk menghindari kebakaran meluas yang dapat mengancam permukiman, perkebunan serta lingkungan sekitar.






