Dobo, Beritajar.com: Dewan Adat Aru (DAA) menggelar Dialog Budaya Aru Tahun 2025. Acara yang dilakukan tersebut mengusung tema “ Mengenal Tarian Adat Tambaroro Sebagai Jati Diri Anak Adat”.
Kegiatan yang bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku ini berlangsung di tribun Lapangan Yos Sudarso Dobo, Selasa (16/12/2025) dalam rangka menyongsong HUT Kabupaten Kepulauan Aru Ke-22.
Ketua Panitia, Tonci Galanggoga dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan yang digelar ini dimaksudkan untuk mendorong serta mendukung anak-anak muda Jargaria zaman sekarang agar mengetahui maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan dimaksud.
“Apa itu Budaya Aru? seperti yang kita ketahui bahwa budaya Aru di Bumi Jargaria ini sangat banyak. Salah satunya adalah Budaya Tambaroro,” ucapnya.
Dikatakan, di Aru jumlah Desa mencakup 117 Desa, maka dapat dikatakan bahwa setiap Desa memiliki ciri khas tersendiri tentang cara Jerkor Tambaroro, ragam dan corak serta irama dalam setiap ritual adat berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu doa Syukur atau doa adal lainnya.
Menurut Tonci, tambaroro itu identik dengan Saba, Dide dan Bela ada juga jenis yang lain. Selain itu, tarian tambaroro ini memiliki keunikan yang luar biasa, memiliki kekuatan adat yang luar biasa dan memiliki makna tersendiri dalam syair, pantun dan lagu-lagu tanah yang di nyanyikan.
Dijelaskan pula, Dialog Budaya Aru Tahun 2025 yang dilakukan sekarang ini dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya orang Aru tentang Tambaroro kepada anak-anak muda atau anak-anak adat Jargaria dengan cara berdialog, berdiskusi bersama para orang tua.
“Bahwa sejauh mana kita sebagai generasi Aru mengetahui dan bisa berperan dalam memperkenalkan budaya orang Aru dengan mengikuti atau mencetuskan karya-karya seni budaya lewat pementasan tarian-tarian adat tambaroro di Desa masing-masing atau pada moment umum lainnya di Tingkat kebupaten/bahkan di luar Daerah,” katanya.
Disamping itu, Tonci menjelaskan Dialog Budaya Aru ini bertujuan untuk;
1), meningkatkan pengetahuan anak-anak generasi muda tentang Budaya Tambaroro Orang Aru.
2) Mendorong seluruh kaum muda Jargaria, bersama keluarga kita dari semua etnis yang lahir, besar dan tinggal menetap di Aru ini, untuk wajib mengetahui budaya aru tentang tambaroro ini lebih dalam dan dapat mempublikasikan ke seantero Nusantara.
3) Mengetahui sejauh mana anak-anak generasi Aru sekarang ini mengenal secara mendalam tentang Budaya Tambaroro.
4) Meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab kita sebagai anak-anak Jargaria tentang pentingnya Budaya Tambaroro sebagai Tarian Adat bagi Anak-Anak Adat Negri ini.
5) Meningkatkan koordinasi baik antara Lembaga-Lembaga Adat atau Pemangku Adat dengan Pemerintah Desa bersama masyarkat adat di 117 Desa agar memberikan wadah bagi kaum muda/mudi Jargaria di Desa dan di Kota agar dari sekarang atau sedini mungkin diberikan proses pembelajaran bagi mereka untuk nantinya menjadi penerus/pewaris adat istiadat di Jargaria ini.
Tonci juga menambahkan, sasaran utama kegiatan ini yaitu kepada anak-anak muda Jargaria, anak-anak adat Jargaria, anak-anak generasi Jargaria sekarang ini.
“Sasaran lainnya, bahwa dalam rangka menyongsong HUT Kabupaten Kepulauan Aru yang ke-22 Tahun 2025 DAA Kepulauan Aru bersama Pemerintah Daerah dan Masyarakat Aru melaksanakan kegiatan dialog budaya Aru dengan semangat membangun aru dan mengenal Budaya kita yang kita cintai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aru, Adolop Pokar menegaskan bahwa salah satu keunikan di Kepulauan Aru adalah memiliki budaya tambaroro yang juga tidak ditemukan di tempat yang lain.
“Jadi Tambaroro itu digunakan untuk semua event kepentingan Keluarga dan Komunitas seperti pernikahan (Orang Kawin), buka sasi, tutup atap rumah serta acara Adat lainnya,” ungkapnya saat membuka kegiatan.
Dilain sisi, pihaknya juga telah berproses pembentukan tim penyusun dan penyusunan dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang merupakan langkah awal sebelum penetapan menjadi Peraturan Bupati (Perbup) dan penyusunan Rencana Strategis (Renstra).
“Jadi kegiatan yang dilakukan ini sangat memberikan kontribusi positif bagi pemerintah daerah, sehingga tambaroro ini kemudian akan menjadi suatu objek yang akan diakui, baik di kabupaten di provinsi maupun di tingkat nasional,” jelas Pokar.
Usai pembukaan, dilanjutkan dengan Dialog Budaya Aru yang dipandu oleh Moderator, Robert Tildjuir, S.Ip selaku
Anak muda Jargaria dengan menghadirkan dua Nasarumber yakni Josep Gaite, Anak Adat Ursi Urlima (Fanan) dan H. Basri Roiminag selaku Anak adat Urlima (Alar).
Kegiatan ini dihadiri Pamong Budaya Ahli Muda, Anita H. S. Latupeirissa, S.Sos Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Provinsi Maluku, Perwakilan Dinas Pariwisata Aru. Sedangkan peserta dialog unsur Orang Tua Adat, pelajar, Ormas/OKP dan Para Kepala Desa serta Komunitas Budaya atau Lembaga Kebudayaan serta seluruh sivitas DAA Kepulauan Aru.






