Dobo, Beritajar.com: Sejarah baru terukir di Bumi Jargaria. Tepat pada peringatan Hari Kartini ke-147, Selasa (21/4/2026), Organisasi Perempuan Adat Aru (Konar Jar ) resmi dideklarasikan di Tribun Lapangan Yos Sudarso. Dentuman tifa dan gong mengiringi ikrar kaum perempuan yang siap menjadi garda depan di Kepulauan Aru.
Momen deklarasi sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Kartini bukan tanpa alasan. Tanggal 21 April dijadikan simbol bahwa kebangkitan jati diri perempuan adat Aru telah tiba dari ujung Batu Goyang hingga ujung Warialau.
“Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan lagi semboyan, tapi gerakan nyata yang disuarakan langsung oleh perempuan adat di atas tanah leluhurnya.
Persatuan Tiga Komponen Wilayah
Dalam deklarasi tersebut, Serlota Siarukin resmi ditetapkan sebagai Ketua Organisasi Perempuan Adat Aru setelah dipilih secara aklamasi oleh keterwakilan perempuan adat.
Struktur organisasi ini mencerminkan persatuan geografis Kepulauan Aru yang solid. Siarukin hadir mewakili wilayah Aru Selatan, didampingi oleh Wati Mangar sebagai Sekretaris dari Aru Utara, serta bendahara yang mewakili wilayah Aru Tengah.
“Terima kasih atas dukungan dan partisipasinya. Tiga komponen wilayah ini menyatukan kita sebagai perempuan adat Aru dalam sebuah organisasi yang legal dan akan ditetapkan dalam keputusan resmi. Kami ingin organisasi ini dikenal tidak hanya oleh masyarakat dan pemerintah lokal, tetapi hingga ke tingkat dunia,” ujar Siarukin dalam keterangannya kepada wartawan usai acara.
Aksi deklarasi ini juga diwarnai dengan penonjolan identitas budaya melalui simbol-simbol adat. Siarukin menjelaskan penggunaan Saloy (bakul anyaman tradisional) dan Tempat Siri dalam kegiatan mereka.
“Saloy ini melambangkan kebersamaan dan peran perempuan Aru sebagai wadah atau tempat menyimpan hasil alam dan pekerjaan. Ini adalah simbol persaudaraan dari ujung selatan ke ujung utara. Sedangkan tempat siri merupakan simbol penghormatan tertinggi, jati diri, dan perlindungan martabat perempuan Aru dalam tatanan adat,” ungkapnya.
Dukungan penuh juga datang dari Halati Mangar, yang saat ini menjabat sebagai Ketua KPU Kepulauan Aru. Ia menegaskan keterlibatannya didasari oleh keterpanggilan jiwa sebagai anak perempuan adat yang ingin menginspirasi generasi muda.
“Ini adalah cita-cita lama yang baru bisa kita wujudkan hari ini. Organisasi ini dibentuk dengan dasar kuat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan adat di Kabupaten Kepulauan Aru. Saya mengajak seluruh perempuan adat untuk bergabung, ‘baku pegang tangan’ dalam persaudaraan yang kokoh,” tegas Halati.
Dirinya juga menambahkan bahwa ke depan, setiap tanggal 21 April akan diperingati dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perempuan adat.
Tokoh senior perempuan Aru, Maritje Galandjinjinay, turut memberikan pesan menyentuh. Sebagai sosok yang dituakan, ia menekankan pentingnya peran perempuan dalam pemulihan di Jargaria.
“Tujuan kita cuma satu, kita ingin melihat semua perempuan saling melengkapi, yang lebih menutupi yang kurang. Kita tidak ingin merasa lebih dari laki-laki, tetapi kita ingin setara untuk bersama-sama membangun Jargaria. Tetap semangat untuk seluruh perempuan di Indonesia, khususnya di Jargaria,” pesan Srikandi Aru yang murah senyum ini.
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Daerah, Polres Kepulauan Aru, serta insan pers yang telah meliput.
Setelah deklarasi ini dinyatakan selesai, pengurus organisasi dijadwalkan akan segera menggelar rapat kerja (Raker) untuk menyusun program-program strategis guna memperjuangkan eksistensi dan hak perempuan adat Aru di masa depan.






