Waspada Scabies (Kudis)

oleh -

Oleh : dr. Carissa Nathania Angarmona

Apa itu Scabies?
Scabies atau yang sering disebut kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau kecil, Sarcoptes scabiei. Penyakit ini mudah menular dan masih banyak ditemukan di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi serta kondisi kebersihan yang kurang baik. Data WHO menunjukkan bahwa prevalensi scabies pada anak berkisar 5-10% pada negara-negara miskin area tropikal. Prevalensi Scabies adalah 0,2-71% di seluruh dunia, cenderung tinggi di negara-negara Afrika, Amerika Selatan, Australia, dan Asia Tenggara. Prevalensi scabies lebih tinggi berkaitan dengan kemiskinan, gizi buruk, dan kebersihan yang rendah.

Menurut Kementrian Kesehatan RI, Scabies masih menjadi salah satu masalah kesehatan di berbagai wilayah terutama lingkungan padat seperti asrama, pesantren, panti, dan rumah dengan banyak penghuni. Data Kementrian Kesehatan RI, menunjukan prevalensi Scabies adalah 8,5-9% dan menduduki urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit yang sering terjadi di Indonesia.

Gejala Scabies

Scabies terjadi ketika tungau kecil masuk dan berkembang biak di lapisan atas kulit. Kutu Scabies berpindah dari satu orang ke orang lain lewat kontak kulit langsung yang lama misalnya satu tempat tidur, berbagi pakaian, handuk, selimut, atau tinggal serumah dengan penderita Scabies tanpa adanya pengobatan secara massal. Kutu betina yang mencapai kulit kita akan menggali terowongan di lapisan kulit dan bertelur di dalamnya 2-3 telur per hari, yang akan menetas 3-4 hari setelahnya menjadi larva kecil, kemudian menjadi nimfa dan kutu dewasa setelah 10-14 hari.

Siklus ini akan terus berlangsung secara berulang jika tidak diputus. Kutu Scabies dapat hidup 1-2 bulan di kulit manusia, dan 1-3 hari di luar tubuh (sprei, pakaian, kasur, handuk). Tungau ini sangat kecil dan tidak terlihat dengan mata telanjang, tetapi menyebabkan rasa gatal yang hebat. Gejala Scabies muncul setelah 2-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala-gejala yang muncul seperti gatal hebat, terutama pada malam hari, hal ini terjadi karena tungau atau kutu penyebab lebih aktif di malam hari.

Gejala dapat berupa muncul bentol kecil seperti jerawat, ruam kemerahan di kulit, kadang ada garis tipis seperti terowongan di kulit, luka akibat garukan, beruntusan, lepuh, atau nanah, sering muncul di sela-sela jari tangan dan kaki, pergelangan tangan, ketiak, perut, pinggang, bokong, dan sekitar kemaluan, rasa gatal yang menyerang anggota keluarga lain dalam satu rumah. Pada anak-anak bisa muncul di kepala, wajah, telapak tangan dan kaki. Jika tidak diobati, luka garukan bisa menyebabkan infeksi bakteri, kulit bernanah, gangguan tidur, menular ke seluruh anggota keluarga, dan menyebabkan penyakit yang lebih serius. Karena itu, jika satu orang terkena scabies, seluruh anggota keluarga sebaiknya diperiksa dan diobati juga.

Bagaimana mencegah dan mengobati Scabies?

Scabies dapat dicegah dengan cara mandi secara teratur, menjaga kebersihan tubuh, tidak berbagi pakaian, handuk, dan selimut dengan orang lain, mencuci pakaian, seprai, dan selimut dengan air panas atau deterjen lalu dijemur di bawah sinar matahari, dan disetrika, menjemur kasur dan bantal secara rutin, memasukan barang dari penderita yang tidak bisa dicuci ke dalam plastik tertutup selama 72 jam atau 3 hari, serta segera berobat ke Puskesmas jika mengalami gatal berkepanjangan (lebih dari satu minggu). Scabies dapat diobati dengan salap atau krim khusus untuk mengatasi tungau penyebab. Salap atau krim harus diolesi ke seluruh tubuh penderita secara teratur dalam jangka waktu tertentu sesuai anjuran petugas kesehatan agar dapat memutuskan mata rantai kehidupan tungau di kulit penderita.

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakan krim antara lain mandi dengan sabun dan air bersih, kemudian keringkan seluruh tubuh dengan saksama menggunakan handuk bersih, sebaiknya kuku dipotong untuk mencegah luka akibat garukan. Obat yang diberikan biasanya antara lain krim permethrin 5% yang dioleskan ke seluruh tubuh dari leher sampai kaki, terutama di sela-sela jari tangan, kaki, lipatan kulit, pusar, bokong, dan area kelamin. Hindari mata, mulut, wajah (pada bayi oleskan juga di kepala) dipakai 8-12 jam (semalaman tidak boleh terkena air, pastikan sudah ke kamar kecil sebelum mengoleskan krim). Setelah dibiarkan semalaman, mandi dan diulang setelah 7 hari kemudian. Krim ini dapat digunakan untuk bayi diatas 2 bulan, dan biasanya memerlukan pengulangan hingga 3x atau jika gejala masih dirasakan.

Oleh sebab itu, tidak hanya penggunaan krim saja yang perlu diperhatikan, namun juga memberantas tungau yang mungkin terdapat pada kasur, selimut, seprai, bantal, handuk, pakaian, dsb dengan dijemur dibawah matahari, dicuci menggunakan detergen, atau direbus dengan air panas. Juga perlu untuk menghindari (tidak kontak dulu dengan anggota rumah atau penderita scabies karena dapat menular lewat kontak langsung. Krim lain yang dapat digunakan adalah Benzyl benzoate jika permethrin tidak tersedia, dioleskan sesuai petunjuk tenaga kesehatan, dan akan terasa sedikit perih. Sulfur (Belerang) 5-10% juga dapat dipakai 3 hari berturut-turut dan aman untuk bayi dan ibu hamil, namun memiliki bau yang khas dan agak lengket. Untuk Scabies berat, dokter dapat memberikan obat minum sesuai dosis. Selain itu juga diberikan obat untuk mengurangi gejala seperti rasa gatal, dan untuk mengatasi infeksi jika diperlukan.

Perlu Diingat!

Scabies bukan penyakit kutukan atau akibat guna-guna, melainkan penyakit menular yang bisa dicegah dan disembuhkan. Sehingga penderita tidak perlu malu untuk berobat. Semakin cepat ditangani, semakin cepat sembuh dan tidak menular ke orang lain. Kebersihan diri dan lingkungan memegang peranan penting dalam muncul dan penyebaran penyakit ini.

Mari bersama menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar angka Scabies terutama di daerah kita dapat menurun. Sehat dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga.