AGRO EKOWISATA URSIAGULI

oleh -
AGRO EKOWISATA URSIAGULI - Doc.Thias Atdjas

(Suatu Pengalaman Pembelajaran Pelestarian Lingkungan Hidup di Aru)

Oleh : Thias Atdjas

Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat di kawasan perkotaan menyebabkan meningkatnya kebutuhan prasarana dan sarana dasar perkotaan seperti perumahan, pendidikan, transportasi, pasar, air bersih, drainase dan pengendalian banjir, sarana persampahan, pengolahan air limbah dan sebagainya. Pertambahan penduduk kota yang tinggi, baik yang alami maupun migrasi harus dapat diimbangi dengan perkembangan dan pertumbuhan kota yang dinamis, yang biasanya selalu diikuti dengan perubahan lahan (Budihardjo, 1993).

Dampak dari pesatnya pembangunan di kota Dobo sebagai ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru berpengaruh luas hingga desa-desa yang berada di sekitar wilayah kota Dobo. Hutan “bakau” telah dijadikan sebagai bahan bangunan perumahan sebagian besar masyarakat Dobo yang menempati daerah pesisir pantai kota Dobo, bahkan dijadikan sebagai “kayu bakar” (kebutuhan dapur) oleh sebagian masyarakat. Jika dikaji lebih terkait pelestarian lingkungan hidup baik Hutan lindung dan hutan magrove yang ada di kota Dobo maka kita akan temukan bahwa kota Dobo sudah tiba pada keadaan kritis lingkungan. Tidak hanya pada hutan lindung yang melainkan sampai pada hutan mangrove yang ada pada pesisir pantai kota Dobo.

Kota Dobo yang berada pada pulau Wamar awalnya pada tahun 80an adalah tanah berawa yang dikelinggi oleh hutan mangrove sebagai pelindung pesisir pantai sekaligus sebagai tempat bertelurnya ikan, namun sejalan dengan pesatnya perpindahan penduduk baik dari desa, maupun dari daerah lain menyebabkan kota Dobo sebagai kota yang padat penduduk dan gundul baik hutan lindungnya maupun hutan mangrove di pesisir pantai kota Dobo.

Saya pernah mengalami masa-masa indah itu waktu Kabupaten Kepulauan Aru masih menjadi Kecamatan Pulau-Pulau Aru dibawah Kabupaten Maluku Tenggara. Masa itu, kami boleh mancing ikan merah di belakang rumah (rumah di pesisir pantai) karena hutan mangrovenya terjaga dengan baik, air lautnya bersih dan jernih karena itu kita bisa mandi hanya dibelakang rumah. Namun sejalan dengan bergesernya waktu masa-masa indah itu menghilang dan mungkin saja tak akan pernah kembali karena hutan mangrovenya telah hilang, sampah “plastik” penuhi sepanjang pesisir pantai pulau wamar (kota dobo). Anak-anak sekarang tidak pernah akan mengalami pengalaman indah pada masa kami waktu itu.

Pengalaman akan masa indah kala itu mendorong saya sebagai seorang Pendamping Desa ketika diajak oleh Anak-anak Muda di Desa Karangguli untuk menghidupkan Wisata yang berbasis lingkungan hidup (Ekowisata) saya langsung bersedia dan ikut terlibat dalam kegiatan pemuda-pemudi itu dan menjadi salah satu pembicara dalam musyawarah Desa terkait desa wisata di Desa Karangguli bersama Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) yang waktu itu langsung dihadiri oleh Ketuanya Bapak Andy Yuwono. Pengalaman musyawarah itu menguatkan saya akan pengalaman indah yang tidak dirasakan oleh anak-anak sekarang di kota Dobo. Setelah musyawarah itu, kami sepakat untuk kembali bermusyawarah dan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Karuanguli” Desa Karangguli untuk menjadi pengelolah wisata desa ini. Puji Tuhan hasil musyawarah itu membuahkan hasil terbentuknya Badan Usaha Milik Desa Karuanguli dan juga BUMDes dibantu oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Dirjen Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup  Kementerian Desa dengan anggaran untuk pembangunan desa wisata di karangguli sebesar Rp. 1.100.000.000,- (Satu Milyar Seratus Juta Rupiah) untuk dua paket pekerjaan yakni Agro Rp. 800.000.000,- dan Mangrove Rp. 300.000.000,-

Kesadaran bersama akan kelestarian lingkungan hidup yang dibicarakan dalam musyawarah perdana di desa Karangguli bersama ASIDEWI tidak serta merta langsung dapat merubah pemahaman masyarakat desa yang telah “diapit” oleh kemendesakan pemenuhan kebutuhan hidup dengan merusak alam secara besar-besaran untuk dapat menghasilkan “uang”. Selain itu masyarakat masih sangat sulit untuk keluar dari kebiasaan membuang sampah di Laut yang ada dibelakang rumah mereka. Burung Cenderawasih yang menjadi Ikon Kabupaten Kepulauan Aru juga belum terlepas dari kebiasaan masyarakat untuk “memanah” dan dijual agar bisa memperoleh “uang”  begitu juga burung “Kakatua” Putih, merah dan hijau.

Kesadaran akan pentingnya pelestarian Lingkungan hidup mulai terasa seiring berjalannya pembangunan Fisik Agro Ekowisata di desa Karangguli. Perlahan-lahan masyarakat mulai terpesona akan keindahan alam setelah di kelola menjadi tempat wisata dan hutan mangrove yang dulunya tidak “diangap” hanya menjadi sarang “agats” sekarang telah menjadi tempat yang indah untuk dikunjunggi dan dilindunggi. Pohon-pohon yang ada di area tempat wisata tidak lagi dipotong, sampah plastik di tempat wisata mulai diperhatikan, burung “kakatua” mulai terlihat bertebangan di atas rumah pohon, hutan bambu di sekitar area wisata tidak lagi dipotong dan digunakan untuk “sero” (Penangkap ikan).

Semoga “Agro Ekowisata Ursiaguli” dapat merubah pemahaman masyarakat desa Karangguli secara kesuluruhan akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup hingga anak cucu mereka bisa merasakan apa yang sekarang mereka rasakan akan indahnya alam mereka.