Dobo, Beritajar.com: Prestasi membanggakan sekaligus menginspirasi ditorehkan kakak beradik Estepanus dan Epson Lefuga, putra asal Desa Tanah Miring, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru. Keduanya sukses mencuri perhatian dalam ajang Merah Putih Fun Run 2026 kategori 10 kilometer (10K) di Dobo, Sabtu (31/10/2026).
Hebatnya, kedua bersaudara ini berhasil naik podium dengan membawa pulang prestasi sebagai juara pertama dan juara ketiga. Estepanus Lefuga finis di posisi pertama dengan catatan waktu 35 menit 57,98 detik, sementara sang adik, Epson Lefuga, menempati posisi ketiga dengan waktu 38 menit 36,10 detik.
Keberhasilan tersebut menjadi cerita tersendiri karena keduanya berasal dari keluarga sederhana dan bukan dari keluarga berada. Namun, keterbatasan ekonomi tidak membuat mereka kehilangan semangat untuk berlatih, berjuang, dan membuktikan kemampuan melalui olahraga.
Bagi Estepanus, kemenangan ini terasa sangat istimewa. Selain berhasil mengharumkan nama keluarganya dan Desa Tanah Miring, ia juga sedang berjuang mengejar cita-citanya menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Estepanus diketahui merupakan calon siswa (Casis) Tamtama TNI AD yang dalam waktu dekat akan berangkat ke Ambon untuk mengikuti tahapan seleksi lanjutan.
Ia mengaku telah dua kali mengikuti tes masuk TNI AD. Pada kesempatan pertama, dirinya belum berhasil melewati seleksi. Meski demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya patah semangat. Sebaliknya, ia terus mempersiapkan diri agar dapat meraih cita-citanya pada kesempatan berikutnya.
“Beta sudah dua kali ikut tes tentara. Pertama jatuh, dan sekarang ada rencana mau berangkat ke Ambon untuk mengikuti tes yang kedua. Jadi, sambil menunggu kapal untuk berangkat, beta selalu latihan lari dan belajar,” ungkap Estepanus.
Di tengah waktu menunggu keberangkatan ke Ambon, Estepanus memanfaatkan kesempatan untuk terus mengasah kemampuan fisiknya. Ia pun menyempatkan diri mengikuti Merah Putih Fun Run 2026 sebagai ajang menguji kemampuan sekaligus menambah pengalaman dalam perlombaan.
“Karena masih ada waktu luang dan belum berangkat, beta menyempatkan diri untuk ikut kegiatan Fun Run ini. Syukur, beta bisa masuk finis di urutan pertama,” tuturnya.
Sementara itu, prestasi sang adik, Epson Lefuga, juga tidak kalah membanggakan. Meski masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia mampu bersaing dengan peserta lainnya dan berhasil mengamankan posisi ketiga kategori 10K.
Epson mengungkapkan bahwa dirinya sudah tiga kali mengikuti perlombaan lari. Dalam perjalanan tersebut, ia pernah meraih juara keempat satu kali, sedangkan pada keikutsertaan lainnya belum berhasil mendapatkan posisi juara.
Namun, kerja keras dan pengalaman yang terus dikumpulkan akhirnya membuahkan hasil. Pada Merah Putih Fun Run 2026, Epson berhasil meningkatkan prestasinya dengan meraih juara ketiga.
Adapun posisi juara kedua kategori 10K diraih Stevan Ferdinandus, anggota Yonif TP 912/JS, dengan catatan waktu 37 menit 30,32 detik.
Prestasi kakak beradik Lefuga menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih keberhasilan. Dengan kemauan, kedisiplinan, latihan, dan semangat pantang menyerah, anak-anak dari keluarga sederhana juga mampu menunjukkan kemampuan serta bersaing dengan peserta lainnya.
Kisah Estepanus dan Epson bukan hanya tentang kemenangan dalam sebuah perlombaan lari. Lebih dari itu, keduanya memperlihatkan bahwa perjuangan dan kerja keras dapat menjadi jalan untuk mengubah keterbatasan menjadi prestasi.
Bagi keluarga Lefuga, dua podium yang diraih dalam satu perlombaan tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Sementara bagi generasi muda di Kepulauan Aru, kisah mereka menjadi inspirasi bahwa untuk meraih mimpi tidak harus berasal dari keluarga berada, tetapi membutuhkan keberanian untuk mencoba, ketekunan untuk berlatih, dan semangat untuk tidak menyerah.
Kini, Estepanus bersiap melanjutkan perjuangannya mengikuti seleksi TNI AD di Ambon, sedangkan Epson masih memiliki perjalanan panjang untuk terus mengembangkan bakat dan prestasinya di bidang olahraga.
Dua bersaudara dari Desa Tanah Miring ini telah membuktikan satu hal yakni keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.







