Pengembangan Perikanan Berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Aru

oleh -

Oleh : Dwi Wahyu Agustiar, S.Tr.Stat.
Statistisi Fungsional Ahli Muda
BPS Kabupaten Kepulauan Aru.

Kabupaten Kepulauan Aru, yang terletak di Provinsi Maluku, Indonesia, telah mengalami sejumlah perubahan signifikan dalam sektor ekonominya dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dilihat dari teori ekonomi yang relevan yakni teori pembangunan ekonomi daerah dan potensi sektor kelautan. Kabupaten Kepulauan Aru memiliki 676 pulau yang terdiri 28 pulau berpenghuni dan 648 pulau tidak berpenghuni, yang mana sebagian besar adalah wilayah hutan mangrove sehingga memiliki potensi perikanan (perikanan laut dan budidaya laut) dan pariwisata.

Potensi wilayah yang demikian telah mendukung perkembangan ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru yang terus mengalami perbaikan dan pertumbuhan berdasarkan PDRB selama 3 tahun terakhir adalah mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar -0,04% pada tahun 2020 ; pertumbuhan ekonomi sebesar 3,47% pada tahun 2021 dan terus meningkat pertumbuhannya sebesar 5,64% pada tahun 2022. Pada tahun 2020 terjadi penurunan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi covid-19, namun kembali pulih seiring berakhirnya pandemi covid-19.

Jika dilihat dari sisi PDRB Pengeluaran maka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun 2022 yaitu sebesar 5,64% dapat terjadi karena adanya peningkatan pembangunan infrastruktur, terutama dalam hal konektivitas yang terwujud melalui pembangunan pelabuhan, jalan, dan bangunan-bangunan lainnya. Hal ini terjelaskan dengan kontribusi PMTB bangunan pada PDRB menurut Pengeluaran tahun 2022 sebesar 22,65% dan merupakan kontribusi terbesar kedua setelah Pengeluaran Rumah Tangga yang memiliki kontribusi sebesar 47,85%. Hal ini sudah sejalan dengan model pertumbuhan ekonomi Solow yang menekankan pentingnya modal fisik (PMTB) dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang. Dengan meningkatnya infrastruktur, diharapkan adanya akses dan dapat menciptakan efisiensi dalam rangka meningkatkan nilai tambah ekonomi, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Dari sisi PDRB menurut lapangan usaha tahun 2022 terlihat kontribusi terbesar adalah sub sektor perikanan sebesar 51,98%. Berdasarkan teori sumber daya alam maka potensi sumber daya alam dilihat sebagai aset berharga yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Perikanan laut dan budidaya laut telah menjadi lapangan kerja bagi penduduk Kabupaten Kepulauan Aru, sehingga menciptakan pendapatan melalui perdagangan hasil-hasil perikanan.

Potensi sumber daya alam yang cukup besar ini tentunya memerlukan pengelolaan yang efektif dan efisien. Efektif dalam hal bagaimana mengelolanya agar dapat diperoleh peningkatan produktifitas baik di skala perorangan, kelompok atau bahkan perusahaan. Sedangkan efisien berarti berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk bisa memangkas ongkos produksi dan pemasaran.

Dalam mendorong produktivitas berkelanjutan pada sub sektor perikanan maka Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru perlu terus menyalurkan bantuan berupa speedboat untuk kelompok nelayan. Dengan sarana speedboat maka nelayan dapat meningkatkan produktivitas subsektor perikanan, sebab wilayah penangkapan ikan menjadi lebih luas. Namun demikian, pemberian sarana transportasi motor ini perlu ditopang dengan keberadaan stasiun pengisian bahan bakar pada wilayah Kabupaten Kepulauan Aru, untuk mendapatkan BBM dalam jumlah yang cukup dengan harga lebih terjangkau. Karena sampai saat ini harga BBM di pulau-pulau masih sangat tinggi dan juga sering mengalami kelangkaan. Karena itu perlu dilakukan kontrol terhadap distribusi BBM di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.

Terkait kondisi geografis di Kepulauan Aru yang tersebar di pulau-pulau maka berpengaruh pada pemasaran dan pendistribusian hasil-hasil perikanan yang jadi terhambat dan berkonsekuensi pada pengumpulan hasil perikanan juga jadi tidak maksimal. Karena itu perlu dibangun pusat pengumpulan ikan yang dilengkapi dengan cold storage. Namun demikian, hampir sebagian wilayah masih terkendala dengan ketersediaan listrik. Oleh sebab itu, perlu ada usaha lebih kuat dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk pengembangan infrastruktur pembangkit listrik yang lebih menyebar di wilayah Kabupaten Kepulauan dengan kapasitas yang lebih besar untuk mendukung pengumpulan hasil perikanan.

Akses transportasi berupa pelabuhan dan ketersediaan fasilitas transportasi (kapal rakyat maupun kapal barang) juga perlu ditingkatkan sehingga nelayan bisa lebih mudah dan murah untuk akses ke tempat pelelangan ikan (TPI) supaya nilai tambah yang diperoleh nelayan akan lebih besar. Dengan demikian kendala pemasaran hasil penangkapan ini dapat diminimalisir terutama untuk wilayah desa yang jauh. Sampai saat ini masih banyak hasil tangkapan nelayan hanya dapat dijual ketika ada orang yang memesan saja atau saat pembeli/pengumpul datang.

Dan supaya hasil perikanan juga dapat berkelanjutan maka yang tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian hutan mangrove yang ada. Hutan mangrove memiliki beberapa manfaat bagi perikanan, antara lain sebagai rantai makanan (tanaman ini sangat disukai oleh ikan-ikan kecil dan kepiting) ; menurut Amran Saru dalam buku Potensi Ekologis dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Wilayah Pesisir (2014), disebutkan mangrove adalah tempat hidup biota laut seperti ikan, udang, kerang, kepiting, dan sebagainya, hutan mangrove sebagai tempat pemijahan dan pembesaran benih biota laut.

Dengan terjaminnya kelestarian hutan mangrove, ketersedian sarana produksi (penangkapan/pengumpulan), ketersediaan infrastruktur transportasi serta infrastruktur untuk penampungan hasil perikanan maka hasil perikanan laut di Kabupaten Kepulauan Aru akan terus berkontribusi secara berkelanjutan pada perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru.