Dobo, BeritaJar.com: Lurah Siwalima Amram N. Bungyanan membuka kegiatan Rembuk Stunting tingkat kelurahan wilayah kerja Puskesmas Siwalima, Jumat (16/12/2022) yang berlangsung di Hotel New Grand Aru.
Dalam sambutannya, Lurah Siwalima menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya Rembuk Stunting tahun 2022, untuk pertama kali dilaksanakan di tingkat kelurahan wilayah kerja Puskesmas Siwalima, sebagai solusi terbaik dalam pencegahan dan penanganan stunting.
“Kami berharap kegiatan ini mampu menguatkan komitmen seluruh pihak yang hadir, dalam menanggulangi permasalahan stunting bersama-sama, serta mendukung program yang telah dirancang,” ucapnya.
Dijelaskan, seribu hari pertama kehidupan adalah periode yang sensitif bagi kehidupan seorang anak, sebab dampak dari pemenuhan gizi dan nutrisi lain yang tidak terpenuhi akan bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki.
Oleh karena itu, kata Amram, diperlukan perhatian khusus atas pemenuhan gizi anak, utamanya pada periode ini. “Secara teknis, Perpres Nomor 72 Tahun 2021 dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI),” jelasnya.
Menurut Amram, terdapat tiga pendekatan dalam pelaksanaan,yakni Pertama, dengan pendekatan keluarga berisiko stunting yang dilakukan dengan intervensi hulu, yaitu pencegahan lahirnya bayi stunting dan penanganan balita stunting.
“Kedua, melalui pendekatan multi sektor dan multipihak melalui pentahelix, yaitu menyediakan platform kerja sama antara pemerintah dan unsur pemangku kepentingan (dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat dan media),” katanya.
Ketiga, sambungnya, pendekatan intervensi gizi terpadu dengan melakukan intervensi spesifik dan sensitif, yang berfokus pada kesehatan dan kecukupan gizi 3 bulan calon pengantin, ibu hamil, ibu masa interval, baduta dan balita, didukung dengan penyediaan sanitasi, akses air bersih serta bantuan sosial.
“Perlu disampaikan bahwa tujuan strategi penurunan stunting yaitu
menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, dan menjamin pemenuhan asupan gizi,” ujar Amram.
Selain itu, untuk memperbaiki pola asuh, lanjutnya, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.
Dikatakan pula, adapun sasaran program percepatan penurunan stunting adalah remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan anak berusia 0-59 bulan. Sehingga output yang diharapkan dari rembuk stunting ini adalah peran aktif dari Kelurahan, Puskesmas dan organisasi kemasyarakatan yang ada di wilayah kerja kelurahan siwalima
dalam upaya penurunan stunting .
Untuk itu, tambah Lurah Amram, pada tingkat kelurahan, Petugas Kesehatan dan petugas gizi puskesmas bersama-sama dengan kader dan RT untuk melakukan penelusuran, penemuan bayi dan balita yang berpotensi stunting, yaitu : Balita 2 bulan berturut-turut Berat Badan Tidak Naik, Balita dengan Gizi Buruk dan Gizi Kurang, Balita penderita penyakit kronis TBC dan Alergi, serta Balita dengan gangguan metabolisme.
“Balita yang berpotensi stunting ini yang harus ditangani secara bersama,” ajaknya.
Dirinya berharap kolaborasi dalam intervensi dapat berjalan antar sektor, yakni sektor kesehatan dan non kesehatan, karena keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh dukungan kolaborasi antar sektor ini.
Ditambahkan, kolaborasi dapat dilakukan melalui pembangunan sanitasi, air bersih, penyediaan pangan yang aman dan bergizi, dan membangkitkan pemahaman serta kepedulian masingmasing individu.
“Besar harapan hasil dari kegiatan ini perlu adanya komitmen dan aksi nyata dari semua pihak terkait untuk bersama menindaklanjuti pencegahan dan penurunan angka stunting dapat berjalan maksimal,” pintah Lurah Siwalima.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dinas Kesehatan Kepulauan Aru, Kepala Puskesmas Siwalima Hadija Hasyim, SKM, seluruh RT di Kelurahan Siwalima dan para kader serta undangan lainnya.






