Dobo, Beritajar.com: Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kepulauan Aru bersama pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turun langsung ke SD Negeri 6 Dobo, Senin (24/8/2026), untuk menindaklanjuti laporan dugaan masalah pada menu makanan yang dikonsumsi siswa.
Langkah tersebut dilakukan setelah muncul laporan dua siswa mengalami gatal-gatal pada bagian mulut dan bibir setelah mengonsumsi menu ikan dalam program MBG yang dibagikan pada Jumat (21/8/2026).
Pengecekan dan klarifikasi berlangsung di ruang Kepala SD Negeri 6 Dobo. Pertemuan dihadiri Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru Jordan Samloy, perwakilan Satgas dari Dinas Ketahanan Pangan, pihak SPPG Durjela, Plt. Kepala SD Negeri 6 Dobo Yustus Simon Sedubun, S.Th., serta pihak sekolah lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala SPPG Durjela 02, Sontaria Balsala, menyampaikan permohonan maaf apabila pelayanan MBG yang diberikan kepada para penerima manfaat belum sepenuhnya sempurna.
Ia menjelaskan, pihak SPPG akan melakukan evaluasi terhadap berbagai masukan yang disampaikan sekolah, termasuk terkait kualitas buah, sayuran, ikan, maupun cita rasa makanan yang disajikan kepada siswa.
Menurut Sontaria, salah satu tantangan dalam penyediaan buah di Kepulauan Aru adalah keterbatasan ketersediaan dan tingginya harga sejumlah jenis buah. Semangka menjadi salah satu buah yang relatif banyak tersedia, sementara buah lainnya terkadang memiliki harga yang cukup tinggi.
Dirinya mengatakan, penggunaan anggur pada menu sebelumnya dilakukan karena saat itu semangka tidak tersedia, sementara anggur masih dapat diperoleh dengan harga yang bisa disesuaikan dengan kemampuan pengadaan.
Namun, pihak SPPG menegaskan kualitas buah tetap menjadi perhatian. Sontaria mengungkapkan, semangka yang secara tampilan terlihat baik dari luar terkadang ditemukan dalam kondisi tidak layak ketika dibelah.
“Kalau semangka yang datang, dari luar selalu kelihatan bagus, tetapi ketika dibelah ada yang bagian dalamnya sudah hancur dan ada juga yang masih putih. Yang seperti itu tidak kami gunakan,” jelasnya.
Buah yang ditemukan tidak layak, lanjutnya, didokumentasikan dan dikembalikan sebagai bahan evaluasi kepada pemasok agar kualitas buah yang dikirim berikutnya lebih diperhatikan.
Selain buah, kualitas dan cita rasa sayuran juga menjadi evaluasi internal SPPG. Sontaria mengakui terdapat kemungkinan perbedaan cita rasa karena proses memasak dilakukan oleh beberapa personel dengan tugas yang berbeda.
“Ada yang memberikan garam sudah pas, ada juga yang kurang. Ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kami,” katanya.
Ia berharap ke depan makanan yang disediakan dapat semakin sesuai dengan selera anak-anak sebagai penerima manfaat tanpa mengurangi standar keamanan dan kualitas pangan.
Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf mewakili seluruh staf SPPG Durjela 02 atas kejadian yang menjadi perhatian tersebut.
Sementara itu, dalam pertemuan tersebut juga ditekankan pentingnya kolaborasi antara BGN, SPPG, pihak sekolah, orang tua, dan penerima manfaat dalam memastikan pelaksanaan program MBG berjalan aman dan sesuai standar.
Setiap keluhan mengenai makanan, khususnya apabila ditemukan ikan, sayuran, buah atau bahan makanan lain yang diduga sudah tidak layak konsumsi, diminta segera disampaikan kepada pihak SPPG dengan menyertakan bukti.
Pihak sekolah juga diminta menyimpan makanan yang diduga bermasalah untuk kemudian diserahkan kepada tim distribusi agar dapat diperiksa dan divalidasi oleh SPPG.
Langkah tersebut dinilai penting agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti berdasarkan bukti, sehingga pihak SPPG dapat melakukan evaluasi, termasuk mempertimbangkan pergantian pemasok maupun penyesuaian menu apabila memang ditemukan masalah.
“Kalau memang ditemukan ikan atau makanan yang sudah tidak baik, kami minta kerja samanya. Simpan makanannya, kemudian sampaikan kepada tim distribusi agar dikembalikan ke SPPG untuk divalidasi dan dievaluasi,” demikian penjelasan dalam pertemuan tersebut.
Pihak BGN dan SPPG juga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Evaluasi bersama diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program MBG sehingga makanan yang diterima siswa benar-benar aman, bergizi dan layak dikonsumsi.
Usai pertemuan, tim kemudian meminta kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi siswa, terutama siswa yang sebelumnya dilaporkan mengalami keluhan pada bagian mulut dan bibir setelah mengonsumsi makanan MBG.
Pada saat mengecek siswa tersebut ternyata tidak ada keluhan dari siswa tersebut dan kondisinya baik.
Pengecekan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan laporan yang diterima dapat ditindaklanjuti secara langsung sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Kepulauan Aru.

