Dobo, Beritajar.com: Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, serta perwakilan masyarakat dari kedua kelompok yang berkonflik melakukan serangkaian upaya perdamaian pada Selasa, (15/6/2026).
Meski sempat terjadi ketegangan dan aksi saling serang di sejumlah titik, situasi keamanan akhirnya berhasil dikendalikan aparat gabungan TNI-Polri dan dinyatakan aman hingga pukul 18.30 WIT.
Langkah penyelesaian konflik diawali dengan rapat tertutup yang digelar Pemkab Kepulauan Aru sekitar pukul 12.00 WIT. Pertemuan tersebut mempertemukan tokoh-tokoh dari kedua belah pihak yang bertikai bersama tokoh adat yang dipercaya dapat menjembatani proses penyelesaian konflik secara damai.
Hasil pertemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pelaksanaan prosesi adat pada pukul 14.00 WIT di sejumlah titik konflik. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya serangan lanjutan antara kedua kelompok sekaligus membuka jalan bagi pelaksanaan perdamaian adat yang akan ditentukan kemudian.
Berdasarkan pantauan media ini dilapangan, prosesi pemasangan sasi adat dipimpin oleh Tua Adat Desa Durjela dan didampingi langsung oleh unsur Forkopimda. Pemasangan dilakukan di kawasan belakang Kantor Bupati, Kompleks Kopi-Kopi, dan Cabang Empat yang selama ini menjadi titik rawan ketegangan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite, Danlanal Aru Letkol Laut (P) Sriadi, Kepala Kesbangpol Joel Gaite, Kepala Desa Durjela, Kepala Desa Wangel, Kepala Desa Kalar-Kalar, pihak Salarem serta sejumlah pejabat daerah lainnya.
Setelah berhasil memasang sasi adat di Kompleks Salarem, rombongan yang terdiri dari tua adat, Bupati, dan unsur Forkopimda melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Sipur, Kalar-Kalar. Namun upaya pemasangan sasi adat di lokasi tersebut mendapat penolakan dari warga setempat sehingga prosesi tidak dapat dilaksanakan.
Kondisi serupa kembali terjadi saat rombongan bergerak menuju Kompleks Marbali, Kalar-Kalar. Akibat adanya penolakan dari warga, pemasangan sasi adat di lokasi tersebut juga batal dilakukan.
Situasi kembali memanas sekitar pukul 17.00 WIT ketika prosesi adat masih berlangsung di tiga titik konflik. Massa dari Kalar-Kalar dilaporkan melakukan penyerangan ke Kompleks Salarem setelah muncul dugaan adanya warga Salarem yang melakukan pemantauan terhadap aktivitas mereka di sekitar permukiman warga.
Informasi tersebut kemudian menyebar dengan cepat ke sejumlah titik di Kompleks Salarem dan memicu pergerakan massa dari tiga kawasan menuju Kantor Bupati untuk melakukan serangan balasan terhadap kelompok Kalar-Kalar.
Menyikapi perkembangan situasi yang semakin memanas, pada pukul 17.40 WIT Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama para tokoh adat memutuskan mencabut kembali sasi adat yang sebelumnya telah dipasang di tiga titik konflik. Setelah proses pencabutan selesai, rombongan pemerintah daerah kembali ke Kantor Bupati.
Di saat bersamaan, personel gabungan TNI-Polri yang bertugas di pos pengamanan dan pos patroli bergerak cepat menghalau massa dari kedua kelompok yang terlibat ketegangan. Untuk mencegah bentrokan yang lebih luas, aparat melepaskan beberapa kali tembakan peringatan. Langkah tersebut berhasil memukul mundur massa dari kedua belah pihak dan mencegah terjadinya eskalasi konflik yang lebih besar.
Selanjutnya, pada pukul 18.00 WIT, personel gabungan TNI-Polri yang dipimpin Wakapolres Kepulauan Aru melaksanakan apel pembagian tugas penjagaan di sejumlah titik konflik guna memperkuat pengamanan dan mengantisipasi kemungkinan gangguan keamanan lanjutan.
Berkat pengamanan intensif yang dilakukan aparat serta koordinasi antara pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, situasi mulai berangsur kondusif pada pukul 18.20 WIT. Seluruh personel gabungan kemudian kembali menempati pos-pos pengamanan yang telah ditentukan.
Hingga pukul 18.30 WIT, kondisi keamanan di wilayah yang sebelumnya dilanda ketegangan dilaporkan berada dalam keadaan aman dan terkendali.
Pemkab Aru bersama aparat keamanan dan tokoh adat terus berupaya mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah tersebut.






