Site icon BeritaJar

SPPG Durjela 002 Mulai Beroperasi, Layani Hampir 1.000 Penerima MBG di Aru

Dobo, Beritajar.com: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Aru terus mengalami pengembangan. Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Durjela 002 Pulau-Pulau Aru kini mulai melayani 965 penerima manfaat dan diproyeksikan akan diperluas setelah tersedianya tenaga chef bersertifikat.

Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru, Jordan Samloy, kepada wartawan, Rabu (3/6/2026), menjelaskan bahwa SPPG Durjela 002 merupakan dapur MBG baru yang mulai beroperasi pada April 2026 dan saat ini melayani sejumlah sekolah di wilayah Dobo dan sekitarnya.

“SPPG Durjela 002 Pulau-Pulau Aru mulai beroperasi sejak bulan April. Saat ini melayani SD Negeri 6, SD Negeri 13, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan total 965 penerima manfaat,” kata Samloy.

Menurutnya, jumlah penerima manfaat tersebut belum dapat ditingkatkan karena masih menunggu penambahan tenaga chef yang harus disiapkan oleh pihak yayasan pengelola program.

Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan operasional MBG, setiap dapur memiliki batas kapasitas layanan yang harus disesuaikan dengan jumlah tenaga profesional yang tersedia. Karena itu, SPPG Durjela 002 belum diperbolehkan melayani lebih dari 1.000 penerima manfaat.

“Nanti kalau sudah ada chef yang disediakan yayasan dan telah mengikuti pelatihan serta sertifikasi, baru jumlah penerima manfaat bisa ditambah di atas 1.000 orang,” ujarnya.

Saat ini, kata Samloy, pihaknya masih menunggu yayasan mengirimkan relawan dapur untuk mengikuti pelatihan sertifikasi chef di Ambon. Jika proses tersebut berjalan lancar, maka kapasitas pelayanan MBG di Kabupaten Kepulauan Aru akan kembali ditingkatkan.

Selain itu, dirinya menambahkan bahwa kebutuhan pelayanan MBG di Kepulauan Aru tergolong sangat besar. Berdasarkan data yang dimiliki BGN, jumlah siswa yang menjadi sasaran program mencapai sekitar 32 ribu orang, belum termasuk kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang juga menjadi penerima manfaat program nasional tersebut.

“Jumlah yang harus dilayani cukup besar. Untuk siswa saja sekitar 32 ribu orang, belum lagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Karena itu kami terus berupaya meningkatkan kapasitas layanan MBG di Aru,” jelasnya.

Terkait perekrutan tenaga kerja pada dapur MBG, Samloy menegaskan bahwa proses tersebut bukan menjadi kewenangan BGN. Perekrutan dilakukan langsung oleh yayasan dan mitra pengelola dapur.

“BGN tidak merekrut tenaga kerja dapur. Yang melakukan perekrutan adalah yayasan dan mitra. Kami hanya mengingatkan agar mereka melibatkan masyarakat dari kelompok ekonomi rendah atau kategori desil 1 dan desil 2,” katanya.

Menurut Samloy, di SPPG Belakang Wamar, sekitar 30 persen relawan yang direkrut berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kriteria yang ditetapkan pemerintah.

Bagi masyarakat yang ingin bergabung sebagai tenaga kerja atau relawan dalam program MBG, ia menyarankan agar langsung mendaftarkan diri kepada yayasan dan mitra yang mengelola dapur.

“Kalau ingin mendaftar, langsung ke yayasan atau mitra karena itu merupakan kewenangan mereka. BGN hanya merekrut tenaga ahli gizi dan tenaga akuntansi yang bertugas sebagai pengawas gizi dan pengawas keuangan,” jelasnya.

Untuk wilayah Belakang Wamar, dapur MBG saat ini dikelola oleh Yayasan Bina Desa Lestari yang menjadi mitra pelaksana program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Kepulauan Aru.

Dengan bertambahnya SPPG yang beroperasi, BGN berharap cakupan pelayanan MBG di Kepulauan Aru terus meningkat sehingga semakin banyak siswa dan kelompok rentan yang memperoleh akses makanan bergizi secara berkelanjutan.

Exit mobile version