Site icon BeritaJar

Alat Rusak dan Jalur Distribusi Terhambat, Stok Beras di Dobo Menipis

Kepala Kantor UPP Kelas III Dobo, Ruswan Wusurwut, SE

Dobo, Beritajar.com: Kelangkaan stok beras yang melanda Dobo, Kepulauan Aru, akhirnya terungkap. Kombinasi antara kerusakan alat berat di pelabuhan serta kendala jalur distribusi dari Makassar menjadi penyebab utama menipisnya stok pangan di tingkat distributor dan pengecer.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Dobo, Ruswan Wusurwut, menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya keras memulihkan operasional bongkar muat setelah pompa hidrolik pada alat forklift pelabuhan mengalami kerusakan.

Untuk mengatasi antrean kontainer, UPP Dobo mengambil langkah darurat dengan meminjam alat dari Saumlaki serta bekerja sama dengan kapal Temas yang membawa alat sendiri.

“Kami antisipasi dengan alat dari Saumlaki supaya pekerjaan tetap jalan. Alat kami sendiri sedang dalam perbaikan. Kami sudah pesan pompa hidrolik langsung dari Singapura seharga Rp47 juta, namun saat dipasang sempat ada kendala tekanan oli yang menyebabkan alat pecah lagi. Sekarang teknisi sedang fokus melakukan maintenance,” ujar Ruswan kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (10/4/2026).

Ruswan menampik isu bahwa beras tertahan di kontainer pelabuhan. Menurut pantauannya, kontainer yang ada saat ini mayoritas berisi barang campuran (seperti minuman ringan/ale-ale) dan bukan beras.

Kelangkaan beras di Dobo lebih disebabkan oleh jalur pelayaran. Beras dari Makassar tidak memiliki kapal kontainer langsung menuju Dobo, melainkan harus transit melalui Surabaya.

Berbeda dengan Tual yang memiliki akses kapal langsung dari Makassar, sehingga stok di sana lebih stabil.

“Beras kita ini dari Makassar, tapi jalurnya harus ke Surabaya dulu baru ke sini. Sementara kapal Temas tidak masuk ke Makassar. Ini yang menghambat suplai,” jelasnya.

Pantauan di sepuluh toko partai besar seperti Mitra, Blessing, dan Utomo menunjukkan stok beras memang mulai kosong sejak awal Ramadan. Di Toko Mitra, stok yang tersisa diprediksi hanya bertahan beberapa hari ke depan, itu pun bukan beras premium.

Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga komersial. Saat ini, biaya per kontainer telah menyentuh angka Rp26,5 juta, yang berdampak langsung pada harga jual di masyarakat.

Ruswan juga menyoroti perilaku pengusaha yang terkadang lambat membongkar barang.

“Kontainer itu maksimal 5 hari harus bongkar, pelabuhan ini bukan gudang. Kami sedang telusuri kenapa ada kontainer yang lama tidak dikeluarkan,” tegas Ruswan.

Sebagai solusi jangka pendek, saat ini kapal Sabuk Nusantara tengah melakukan bongkar muat beras yang dibawa dari Tual untuk mengisi kekosongan stok di pasar.

Pihak UPP juga mengatur teknis bongkar muat “satu turun satu naik” (satu kontainer isi turun, satu kontainer kosong naik) untuk mempercepat pergerakan barang di terminal yang terbatas.

Exit mobile version