Dobo, Beritajar.com: Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Perindag) Kepulauan Aru, Bernadus Atdjas, mengungkapkan adanya kendala serius pada proses bongkar muat di Pelabuhan Dobo yang memicu kelangkaan stok barang di toko-toko.
Sebanyak 30 kontainer dilaporkan tertahan dan belum bisa dibongkar akibat kerusakan alat serta penumpukan barang yang belum teratasi sejak sebelum Lebaran.
Pernyataan ini disampaikan Kadis Perindag Aru usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kepulauan Aru pada Rabu (8/4/2026).
Atdjas menjelaskan bahwa akar masalah bermula dari rusaknya alat berat berupa forklift milik pihak pelabuhan. Meskipun teknisi telah didatangkan, kendala teknis terus berulang yang menghambat distribusi barang dari kapal ke lapangan penumpukan.
“Masalah utamanya adalah forklift rusak. Sudah diperbaiki, tapi rusak lagi. Akibatnya, ada sekitar 30 kontainer yang belum dibongkar. Persoalannya, jika kontainer yang lama belum dibongkar dan dikosongkan, kapal berikutnya yang akan masuk tanggal 16 atau 17 nanti mau ditaruh di mana?” ujar Bernadus kepada wartawan.
Kondisi ini diperparah dengan area penumpukan yang sudah sangat padat. Kadis menegaskan pentingnya pengosongan lahan agar barang-barang baru bisa diturunkan.
Tersendatnya arus bongkar muat ini berdampak langsung pada ketersediaan barang pokok di masyarakat. Dirinya mengakui stok di sejumlah toko mulai menipis, bahkan beberapa komoditas seperti susu sempat kosong.
Terkait harga, pihak Perindag sebelumnya telah mengintervensi kenaikan harga telur yang sempat menyentuh Rp120.000, tetapi kembali ke harga normal di bawah Rp100.000 (sekitar Rp75.000). Namun, ia khawatir kestabilan harga ini akan terganggu jika masalah di pelabuhan tidak segera tuntas.
“Pengusaha juga mengeluh karena barang mereka rusak akibat tertahan lama di pelabuhan dalam kondisi cuaca hujan dan panas. Ini kerugian besar bagi mereka,” tambahnya.
Atdjas menyebutkan bahwa kewenangan untuk memerintah atau mengatur teknis di dalam pelabuhan berada di tangan Syahbandar, bukan secara langsung di bawah Perindag.
Namun, ia menekankan perlunya koordinasi cepat antara pihak pelabuhan, pengusaha, dan buruh (tenaga kerja bongkar muat).
Selama masa kritis menjelang Lebaran lalu, pemerintah daerah sempat mengambil kebijakan darurat dengan memaksimalkan kapal feri untuk memasok kebutuhan mendesak seperti telur guna menutupi kekurangan stok yang tidak bisa diangkut kontainer.
Menutup keterangannya, Kadis Perindag berharap pihak otoritas pelabuhan segera mengambil langkah konkret sebelum jadwal kedatangan kapal berikutnya.
“Intinya adalah koordinasi. Jika masalah buruh dan alat ini selesai, barang bisa turun, dan stok di pasar akan kembali normal. Kami terus memantau di lapangan meskipun ada keterbatasan wewenang dalam area pelabuhan,” pungkasnya.

