Site icon BeritaJar

Peluncuran dan Diskusi Buku ” Carita Dolo Kala” di Aru, Ini Harapan BPK Wilayah XX Maluku

Dobo, Beritajar.com: Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku mengapresiasi Peluncuran dan Diskusi Buku ” Carita Dolo Kala” (Kumpulan Folkior Lisan Masyarakat Adat Aru).

Acara yang digelar oleh Tim Lia-Lia Procjek kerjasama Unpatti Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Aula Kampus PSDKU Unpatti Aru, Kamis (27/11/2025) ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya dan sejarah di Maluku.

Pamong Budaya Ahli Muda, Anita H. S. Latupeirissa, S.Sos Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Provinsi Maluku menyampaikan kekagumannya terhadap potensi anak muda Aru dalam melestarikan budaya. Ia menekankan bahwa inisiatif ini jangan hanya berhenti pada dokumentasi atau buku cerita.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh tim Lia-Lia bersama Ibu Margaret dengan teman-temannya. Luar biasa anak muda yang sangat kompetitif dalam melihat peluang tentang pelestarian kebudayaan di Aru,” ucapnya kepada media ini.

Latupeirissa berharap buku ini dapat menjadi bahan literasi bagi anak-anak sekolah, terutama generasi muda. BPK memberikan aspirasi dan semangat kepada tim Lia-Lia untuk terus melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan waktu dalam mengembangkan kebudayaan di Aru.

“Ini luar biasa, anak-anak muda yang seyogianya mereka masih berkuliah tetapi mempunyai pikiran yang kritis untuk mengembangkan kebudayaan di sini. Maju terus, jangan mundur generasi muda, semoga apa yang dilakukan di saat ini mendapat berkah, dapat memberi stimulus yang luar biasa bagi pengembangan kebudayaan di Aru,” ujarnya.

Sementara itu, Sony Djonler salah satu narasumber menjelaskan bahwa peluncuran buku ini melibatkan diskusi dengan Silvester Heatubun dari Rumah Sastra Aru, yang mengupas kekayaan budaya lisan dalam buku tersebut.

Djonler juga mengupas bagaimana lirik lagu-lagu tanah (daerah) dapat menjadi penunjuk atau penanda sejarah masa lalu.

Ia mencontohkan penelitiannya bersama Dr. Ros Gordon dan Prof. Hansa Gedal mengenai syair lagu tanah di Kumul, “Kompania bakal kumul batuleilari,” yang mengungkap peristiwa pembunuhan seorang kontrolir Belanda bernama Sersan Surgeon Hayman Skedder pada tahun 1791.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengirim kapal perang untuk menyerang Kumul pada tahun 1794. Syair lagu tersebut menjadi ejekan bagi orang-orang Batu Leilari yang tidak menolong Kumul saat perang.

“Syair lagu-lagu tanah itu bisa dipakai sebagai petunjuk sebuah peristiwa sejarah di masa lalu,” ungkap Djonler.

Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan dorongan kepada peserta untuk terlibat aktif dalam menggali dan mengembangkan kebudayaan Aru.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat membuat regulasi, terutama peraturan daerah tentang pengembangan dan pelestarian kebudayaan Aru.

“Karena perda pengakuan masyarakat adat sudah, meskipun belum ada implementasinya oleh peraturan bupati, tapi peraturan daerah yang penting,” pintah Djonler.

Ketua Komunitas Rumah Sastra Arafura, Silvester Heatubun menambahkan bahwa buku “Cerita Dolo Kala” merupakan gebrakan baik dalam pelestarian karya sastra lisan, seperti cerita rakyat, legenda, dan nyanyian rakyat.

“Buku ini termuat buku cerita rakyat, cerita rakyat takuna, dan nyanyian-nyanyian rakyat. Ada syair-syair dalamnya dan puisi-puisi dll,” katanya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi anak muda milenial untuk menghasilkan karya tulis yang bermanfaat dalam merawat folklor lisan di Kepulauan Aru.

“Dengan adanya kegiatan ini, sangat baik sekali untuk memajukan Aru khususnya dalam konteks pelestarian kebudayaan folklor lisan,” jelas Heatubun.

Dirinya berharap kegiatan ini dapat menarik perhatian banyak orang untuk lebih jeli melihat proses pengabadian karya sastra dan budaya dalam bentuk buku. Langkah ini juga dapat menambah daya tarik perkembangan soft skill dalam menghadapi dunia modernisasi.

Sebagaimana diketahui, Carita Dolo Kala merupakan salah satu dari sekian banyak syair tua yang sering dinyanyikan dan mengandung cerita manusia Aru pada masa lampau, ungkapan-ungkapan syukur hingga bentuk kedukaan.

Ternyata jauh sebelum agama-agama monoteis masuk ke ruang-ruang hidup mereka, manusia Aru telah memiliki mazmur tersendiri untuk memuji Tuhan yang mereka sebut Jirjir Duai.

Exit mobile version