Site icon BeritaJar

Libatkan Tua Adat Perjuangkan Nasib Mahasiswa, GMKI dan HMI Seruduk Kantor Bupati Kepulauan Aru Ancam Sasi

Dobo, Beritajar.com: Serangkaian Permasalahan mahasiswa Stikes Pasapua Ambon asal Aru yang tak kunjung tuntas, memaksa sekelompok mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Dobo dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Aru turun ke jalan, Selasa (02/9/2025).

Tak kurang dari 50 mahasiswa yang tergabung dalam organisasi HMI itu menggeruduk empat tempat sekaligus yakni Kantor Bupati Kepulauan Aru, DPRD , Kejaksaan dan Polres Kepulauan Aru untuk menggelar aksi damai.

Kali ini, tidak main-main, Tua-tua Adat Ursia Urlima ikut serta bersama kedua organisasi tersebut sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap masa depan generasi Aru yang nasibnya terkatung-katung di kampus STIKES Pasapua Ambon.

Di kantor Bupati, terpantau aksi damai yang dipimpin Markus Karelau selaku Ketua GMKI Cabang Dobo dan Hamja Kaidel Sekretaris HMI itu dalam upaya mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Aru agar serius menuntaskan persoalan mahasiswa Stikes Pasapua Ambon.

Sekretaris HMI cabang Aru, Hamja Kaidel dalam orasinya mengatakan, hari ini ia datang bersama orang tua-tua adat Ursia Urlima, karena pemerintah daerah tidak pernah merespons apa yang selama ini diperjuangkan.

Bahkan, kehadirannya bersama tua-tua adat akan melakukan sasi di kantor bupati jika tuntutan mereka tidak dipenuhi Pemkab Kepulauan Aru.

Hamja menyampaikan bahwa RDP bersama DPRD Aru beberapa Minggu lalu yang merekomendasi agar Pemda Aru bersama DPRD bertemu langsung dengan pihak kampus tidak di gubris (DPRD Aru sendiri yang berangkat).

“Sehingga ini bukan menjadi tanggung jawab kita sendiri, namun menjadi tanggung jawab bersama para tua-tua adat Ursia Urlima akan nasib anak-anak, adik, kakak kita yang di keluarkan dari kampus STIKES Pasapua Ambon,” teriak Kaidel.

Dikatakannya, utang kampus STIKES Pasapua Ambon belum di bayarkan oleh Pemda dari tahun 2020-2024.

“Kami bukan orang gila untuk setiap kali datang di kantor bupati ini, seandainya bapa ibu Sat Pol PP maupun Polisi yang di depan ini ada di posisi kami, maka hal yang sama juga akan dilakukan bapa ibu semua,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, selaku anak-anak yang merupakan putra putri Aru yang demi mengenyam pendidikan, apakah harus di abaikan seperti ini dan menjadi korban?.

“Kami berdiri disini bukan demi Beta dengan organisasi punya kepentingan, ini demi teman-teman yang merupakan anak Aru yang harus dipulangkan dari kampus STIKES Pasapua Ambon,” katanya.

Selain itu, menurutnya, aksi demo damai ini murni dari isi hati kami yang menjadi inspirasi bersama untuk memperjuangkan nasib saudara-saudari kami yang menjadi korban di kampus STIKES Pasapua Ambon.

“Proses kami ini sudah berproses sudah sebulan lebih, namun tidak ada sama sekali tanggapan dari pemerintah daerah,” tandas Kaidel.

Tidak lama kemudian, Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel meminta perwakilan aksi dan para tua adat untuk masuk diruangannya guna membahas permasalahan tersebut.

Usai keluar dari ruang kerja bupati, salah satu tua ada, Piter Barends mengatakan bahwa piring putih yang melambangkan adat sudah diletakan di meja bupati, sehingga untuk hasilnya seperti apa kita tunggu saja.

“Jadi tunggu saja kalau dia (bupati) karja batul ya… dia aman, tapi kalau parlente nanti dia dapat hasilnya juga. Jadi mari Katong pulang baru katong bahas di rumah tua di desa Durjela yang sebelum Katong datang ke kantor Bupati,” ungkapnya kepada para pendemo sambil berlalu.

Terkait hal tersebut, bupati ketika wartawan hendak meminta waktu konfirmasi, dirinya (Bupati) mengaku sudah lapar jadi buru-buru langsung naik mobil dinasnya dan langsung pulang.

Sementara berdasarkan informasi yang didapat, hasil pembicaraan tersebut, bupati janji akan membentuk tim untuk menelusuri penyebab hingga mahasiswa di keluarkan dari kampus, baik itu di Ambon maupun Makasar dan lainnya terkait dengan administrasi MOU dan Penandatanganan Kerja Sama (PKS).

Usai bertamu bupati, selanjutnya pada aksi demo menuju kantor DPRD Kepulauan Aru, Kejaksaan Negeri dan Polres Kepulauan Aru untuk melanjutkan tuntutan mereka.

Dalam aksi tersebut berlangsung aman, serta dikawal oleh Personil Polres Kepulauan Aru dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Exit mobile version