Site icon BeritaJar

Parade 7 Mata Belang Ramaikan Festival Kora-Kora Ursia Urlima

Dobo, BeritaJar.com: Sebanyak tujuh (7) perahu mata belang meramaikan Festival Kora-Kora Ursia Urlima di pantai Batu Kora desa Wangel, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Jumat (9/5/2025).

Ketujuh mata belang tersebut adalah mata belang Salay, Inawan, Jerfui, Laikaran, Galgal, Palpui dan Liseran.

Pada parade belang yang digelar oleh Sanggar Cendrawasih grup mengusung tema “Jargaria Berkarya Untuk Dunia Pariwisata di Tengah Globalisasi”.

Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel mengatakan bahwa festival kora-kora atau festival belang merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang sangat penting, terutama dalam memperkenalkan dan menjaga warisan budaya bangsa kepada generasi muda.

“Semoga warisan sejarah ini kita terus pertahankan di tengah-tengah perkembangan jaman, perkembangan teknologi tentang perhubungan angkutan laut kita,” katanya saat membuka dan melepaskan parade belang.

Kaidel juga pada kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih kepada kedua desa di Kecamatan Aru Selatan yakni desa Feruni dan desa Kalar-kalar yang mana hingga kini masih menjaga warisan sejarah kora-kora.

“Hari ini saya berterima kasih khusus bagi orang Feruni dan Kalar-kalar yang tetap mempertahankan warisan sejarah ini sampai sekarang masih bertahan, walaupun ada sedikit sentuhan teknologi tetapi nilai arsitektur daripada Belang ini tetap terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Dirinya berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan dan dibuat meriah, serta kedepannya menjadi agenda tahunan.

“Semoga festival ini akan kita kembangkan di tahun-tahun depan dan kita buat yang lebih meriah, supaya bisa dikenang oleh orang luar dan tamu-tamu kita yang ada di kabupaten ini sebagai bentuk daripada warisan budaya kearifan lokal yang harus dipertahankan,” jelas Kaidel berpesan.

Sementara Ketua Sanggar Cendrawasih, Albert Layaba dalam sekapur sirih menuturkan bahwa dalam festival kora-kora ini, pihaknya mengundang sejumlah mata belang tetapi yang memenuhi persyaratan adalah desa Feruni dan Kalar-kalar.

“Karena hingga saat ini kedua desa tersebut masih mempertahankan seni budaya kabupaten Kepulauan Aru. Hanya saja yang hadir dalam festival ini cuman desa Kalar-kalar yang mewakili Ursia Urlima,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan, kenapa Kalar-kalar mewakili Ursia Urlima? Dan mengapa sampai begitu, karena kalau mata belang Salai, maka Salai ada di Utara, Tengah dan ada di Selatan.

“Begitu juga dengan kora-kora atau mata belang yang lain, sehingga kora-kora yang seperti ini adalah mempersatukan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru, baik di kota maupun di desa-desa,” jelas Layaba.

Exit mobile version