Masyarakat Aru : Munculnya Ikan Paus Bisa Pertanda Baik dan Buruk

oleh -

Dobo, BeritaJar.com: Masyarakat Kepulauan Aru dihebohkan dengan munculnya Ikan paus di pelabuhan Yos Sudarso Dobo, Kamis (1/5/2025) dini hari. Kehadiran bangkai ikan paus tersebut dapat dianggap sebagai pertanda baik dan buruk.

“Terdamparnya ikan Paus di Pelabuhan Dobo ini dapat membawa berkat (baik) untuk kita orang Aru, tetapi juga bertanda buruk,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Adat Aru, Thonci Galanggoga kepada beritajar.com di Dobo, Kamis (01/05).

Dikatakan, terhadap bangkai ikan Paus tersebut langsung dilakukan ritual adat dengan dibungkus pakai kain putih, diikat menggunakan kain merah, karena menurut kepercayaan warga Aru paus itu adalah leluhur.

“Masyarakat di Kepulauan Aru mempunyai kepercayaan bahwa paus atau Jom Bi’Jarum dalam bahasa lokal Aru adalah leluhur, sehingga dalam ritual tersebut kita pembagian sesuai ikan paus yakni kepala, belakang, Lidah, perut dan ekor,” katanya.

Galanggoga menjelaskan, adapun Ur lima yang memiliki lambang seekor ikan paus, daerahnya terbagi menurut bagian-bagian dari ikan tersebut, yaitu bagian kepala (gultabir), lidah (kabelir), bagian belakang (tilkey), perut (tubir) dan ekor (alar).

Bagian kepala adalah Karey, Beltubur, Jorang, Gomamerti, Gomarsungai, Fatlabata, Siya, Meror, Salarem, Batugoyang, Dosimar, Dokabarat, Dokatimur, Laininir, Gaimar, dan Jelia.

Lidah pada Kampung Wangel dan Durjela di Pulau Wamar. Kemudian bagian belakang meliputi kampung Feruni, Kalar-kalar, Kabalukin, Ngaiguly, Fatural, Ngaibor, Marfenfen, Popjetur, Lorlor dan Jerol.

Bagian perut terletak pada kampung Maekor, Tabarfane, Lutur, Rebi, Juring, Erersin, Hokmar, dan Maijuring.

Sedangkan bagian ekor diwakili oleh kampung-kampung Batuley, Kumul, Benjuring, Kabalsiang, Waria, Jursiang, Sewer, Karaway, Kobamar, Namalau, Selibatabata, Komfane, Gomogomo, Masiang, Bemun, Longgar, dan Apara.

Sebelum dibawah ke rumah adat desa wangel untuk ritual selanjutnya, Kita semua (Urlima) duduk ritual adat menggunakan minyak kelapa dan siri pinang .

“Minyak kelapa itu kita mendoakan dan meminta kalau kehadiran terdamparnya ikan paus ini di dermaga Dobo membawa berkah untuk kita orang Aru semua, kita minta itu, tetapi kalau ada hal-hal yang kita tidak tahu ada tanda-tanda buruk, kita meminta agar Tuhan dan Leluhur kembalikan ke laut yang dalam lepas hal buruk dari kita masyarakat Aru,” tutur Galanggoga.

Selain itu, pakaian yang dipakai pada ikan paus tersebut untuk menutupi tubuh ikan paus. Karena menurut masyarakat hukum adat ursia urlima lambang kebesaran masyarakat Aru urusi urlima adalah Ikan paus dan ikan hiu. Urlima menggunakan simbol ikan paus, sedangkan Ursia melambangkan dirinya dengan ikan hiu.

“Karena di dalam persaudaraan itu mencari hak ulayat yang terbukti sampai saat ini, raja urlima mempergunakan sarung ikan paus dan raja urlima mempergunakan sarung ikan hiu untuk mecapai hak ulayat, dan terbukti hingga hari ini,” jelas Thonci.

Semoga semuanya itu jadi berkat, dan ketika ada hal-hal yang tidak sejalan dalam hak Ulayat harus diselesaikan dengan baik.

“Untuk kebahagiaan, keselamatan saat kita mencari di laut dan darat dapat menjadi berkat bagi kita semua untuk membangun kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku maupun NKRI,” terang Galanggoga.