Site icon BeritaJar

Penyakit Sifilis / Raja Singa, Apa Itu ?

Oleh: dr. Partick Sanjaya, Puskesmas Dobo

Sifilis atau dikenal juga dengan raja singa adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang mungkin tidak banyak kita dengar, namun pengetahuan tentang penyakit ini sangat penting untuk menjaga kesehatan seksual.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada Januari-September tahun 2024, jumlah kasus sifilis di Indonesia pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 6.855 kasus. Rinciannya, 245 kasus sifilis primer, 239 kasus sifilis sekunder, dan 49 kasus sifilis kongenital. Ini tentunya sangat memprihatinkan melihat fakta bahwa banyak kasus di Indonesia yang didominasi oleh remaja usia sekolah yang seharusnya mendapatkan edukasi tentang penyakit menular seksual (PMS) agar dapat teredukasi dan dapat mencegah Peningkatan kasus penyakit sifilis.

Di Kabupaten Kepulauan Aru khususnya yang memeriksakan diri ke Puskesmas Dobo tahun 2024 terdapat 16 kasus sifilis dan bulan januari s/d februari tahun 2025 sudah terdapat 6 kasus, dimana khususnya terdapat pasien ibu hamil yang pasiennya sendiri tidak tau kalau sudah tertular dari suaminya sendiri. Permasalahan tidak hanya terletak pada peningkatan kasus yang tinggi, tetapi juga pada rendahnya jumlah pasien yang tidak memeriksakan diri, atau hanya membeli obat bebas di apotek sehingga tidak mendapat pengobatan yang seharusnya.

Penyakit raja singa atau sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini dimulai sebagai luka yang tidak nyeri, biasanya pada alat kelamin, rektum atau mulut. Kondisi ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui kontak kulit atau selaput lendir dari luka ini.
Hal ini yang membuat banyak orang yang mengidap sifilis tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Penyebab sifilis adalah bakteri yang bernama Treponema pallidum. Cara paling umum penyebaran sifilis adalah melalui kontak dengan luka orang yang terinfeksi selama aktivitas seksual. Bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau lecet pada kulit atau selaput lendir.

Sifilis menular selama tahap primer dan sekunder, dan kadang-kadang pada awal periode laten. Pada kasus yang lebih jarang, kondisi ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan lesi aktif, seperti saat berciuman. Ini juga dapat ditularkan dari ibu ke bayinya selama kehamilan atau persalinan.

Faktor Risiko Sifilis

Siapa pun yang aktif secara seksual bisa terkena sifilis, tetapi beberapa orang memiliki peningkatan risiko terinfeksi. Risiko akan jadi lebih tinggi jika:
• Melakukan hubungan seks bergonta ganti pasangan ataupun sesama jenis.
• Melakukan hubungan seks tanpa kondom, terutama jika memiliki banyak pasangan.
• Mengidap HIV/AIDS.
• Berhubungan seks dengan seseorang yang mengidap sifilis.
• Mengidap IMS jenis lain, seperti klamidia, gonore atau herpes.

Gejala Penyakit Sifilis

• Sifilis Primer
Ciri-ciri penyakit sifilis primer ditandai dengan munculnya luka pada alat kelamin,  dubur, bibir, maupun mulut. Munculnya luka tersebut akan terjadi 10 sampai  dengan 90 hari setelah bakteri Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh.

• Sifilis Sekunder
Sifilis sekunder adalah tahapan yang akan terjadi beberapa minggu setelah luka di sekitar alat kelamin, dubur, bibir, atau mulut menghilang.

Penderita sifilis sekunder juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:
• Flu
• Sakit kepala
• Nyeri sendi
• Demam
• Merasa lelah secara berlebihan
• Pembesaran kelenjar getah bening
• Rambut rontok
• Penurunan berat badan

• Sifilis Laten
Sifilis bisa masuk masa laten tanpa gejala selama beberapa tahun. Namun, bakteri masih aktif dalam tubuh.

• Sifilis Tersier
Sifilis tersier merupakan pengembangan infeksi sifilis sekunder yang tidak diobati. Sehingga, gejala sifilis tersier menjadi lebih parah dan mempengaruhi anggota tubuh dalam seperti berikut:
• Kerusakan katup jantung; aneurisma.
• Gangguan sistem saraf pusat.
• Adanya tumor pada tulang, hati, dan sendi

• Sifilis kongenital
Jika kondisi ini terjadi pada ibu hamil, maka janin wanita tersebut bisa juga tertular.
Risiko tersebut bisa dikurangi dengan mengobati infeksi sebelum masa kehamilan mencapai 4 bulan.

Jika penanganan dan pengobatan terlambat, ibu hamil tersebut akan terkena komplikasi.
Komplikasi bisa berupa bayi lahir prematur, keguguran, bayi lahir dengan sifilis, dan bayi lahir meninggal.

Pencegahan Sifilis

Cara agar terhindar dari penyakit ini, yaitu:
• Memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual.
• Berhenti untuk melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama.
• Secara terbuka mendiskusikan riwayat penyakit kelamin yang dialami bersama pasangan.
• Biasakan menggunakan kondom bila harus berhubungan seksual dengan orang yang tidak dikenal.

Apakah Sifilis Bisa Sembuh?

Sifilis tentunya dapat sembuh, jika sejak gejala awal langsung diobati. Salah satu obat yang dapat mengobati bakteri sifilis adalah antibiotik, yaitu penisilin yang disuntik ke tubuh pasien.
Pemberian penisilin berlaku bagi pasien sifilis dengan gejala awal hingga parah yang sudah mengalami komplikasi.

Perbedaannya hanya pada dosis yang diberikan sesuai tingkatan gejala. Berlaku juga bagi ibu hamil yang mengalami sifilis, penisilin tetap diberikan.

Selama pengobatan dan penyembuhan, pasien sifilis tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual hingga luka benar-benar sembuh. Jangan lupa, bagi pasien sifilis juga diharapkan dapat melakukan tes HIV, karena penularan sifilis juga berpotensi besar bida terkena HIV.

Segera Periksakan Ke Dokter Jika Ada Tanda Sifilis

Penyakit sifilis atau raja singa menjadi penyakit menular seksual (PMS) yang perlu dihindari karena berdampak sangat besar bagi kesehatan luar dan dalam tubuh. Cara mencegah sifilis adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sifilis, atau melakukan aktivitas seksual menggunakan kondom.

Segera konsultasikan gejala dan tanda penyakit sifilis yang mungkin dialami ke fasilitas kesehatan terdekat.

Exit mobile version