Dobo, BeritaJar.com: Kantor Bahasa Provinsi Maluku bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kepulauan Aru menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Bahasa Tarangan Barat di Kepulauan Aru, Rabu (16/10/2024).
FTBI Revitalisasi Bahasa Trangan Barat tersebut berlangsung di lapangan Yos Sudarso Dobo itu dibuka oleh Bupati Kepulauan Aru yang diwakili Asisten 3 Setda, Aris F. Gainau dan diikuti 26 sekolah tingkat SD dan SMP.
Bupati Johan Gonga dalam sambutannya yang dibacakan oleh Asisten 3 Setda Kepulauan Aru menyampaikan, kita patut bersyukur bahwa kita adalah sebagai bagian dari daerah yang berbudaya dan beradab, yang menunjukan jati diri sebagai suatu bangsa.
Hal ini menunjukan bahwa bahasa daerah sebagai bagian dari budaya yang memainkan peran penting dalam memperkuat solidaritas dan hubungan sosial dalam suatu komunitas.
Menurutnya, dalam konteks ekonomi, bahasa daerah juga merupakan aset penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi lokal.
“Terkait dengan hal tersebut maka kegiatan festival tunas bahasa ibu merupakan sebuah kesempatan emas bagi kita sekalian, untuk tetap menjaga dan melestarikan bahasa ibu sebagai sebuah kekayaan dunia dan kekayaan daerah kita,” ucap Gonga.
Dia katakan, kekayaan tersebut dapat dimaknai sebagai pemikiran dan pengetahuan yang tersimpan dalam khasanah bahasa daerah, yang harus terjaga dari generasi ke generasi masa depan.
“Pada Era Disrupsi saat ini, ancaman terhadap keberadaan bahasa ibu sangat besar, oleh karena itu maka festival ini diharapkan menjadi sarana untuk pengembangan bahasa ibu, secara khusus bahasa Tarangan Barat, melalui berbagai kegiatan lomba maupun dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah,” ujarnya.
Gonga juga menjelaskan, pada umumnya masyarakat indonesia adalah masyarakat bilingual, Artinya, bahasa daerah adalah bahasa pertama atau bahasa ibu, sedangkan bahasa keduanya adalah bahasa indonesia.
“Melihat pentingnya bahasa sebagai penyangga budaya suatu bangsa, maka menjadi keharusan bagi semua elemen untuk mempertahankan bahasa ibu. Sebab, bahasa dan budaya menjadi dua hal yang saling terintegrasi. Dua aspek ini bagaikan dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.
Ditambahkan pula, dalam kamus bahasa indonesia, dikatakan bahwa bahasa ibu merupakan bahasa yang pertama sekali dikuasai seseorang, dan selalu dipakai dalam berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungannya.
Oleh karena itu, bahasa ibu dapat digunakan sebagai pengantar dalam membantu anak memahami materi pembelajaran. Selain bahasa indonesia, guru pun perlu menguasai bahasa daerah atau bahasa ibu di mana pembelajaran itu dilaksanakan.
Gonga berharap semoga kegiatan festival tunas bahasa ibu, yang bertajuk Bahasa Tarangan Barat ini dapat dikuti dan dimanfaatkan oleh semua elemen bidang pendidikan, sehingga kekuatan bahasa ibu menjadi perekat dan penopang kehidupan bersama di bumi Jargaria tercinta.
“Kepada semua pihak terkait dengan proses ini, khususnya dari pihak penyelenggara, saya ucapkan terima kasih atas partisipasinya, semoga pengabdian yang Saudara-saudara berikan dapat memberikan arti dan manfaat besar bagi Bangsa, Negara dan Pemerintah Daerah,” pungkas bupati dua periode ini.
Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Maluku, Kity Karenisa menyampaikan, pelaksanaan FTBI di Kepulauan Aru tahun ini adalah kali kedua, setelah sebelumnya dilaksanakan di Jerol kecamatan Aru Selatan, karena penyelenggaraan di Jerol didukung dengan penguasaan bahasa Tarangan Barat yang cukup baik di wilayah tersebut.
Namun khusus di kecamatan Pulau-pulau Aru, penguasaan bahasa Tarangan Barat terbilang hal baru bagi para siswa, sehingga upaya maksimal dilakukan oleh para guru dan pendamping guna menampilkan para pesertanya dengan baik.
“Permasalahan kami di kabupaten Kepulauan Aru adalah kemajemukan anak-anak punya latar belakang asal, dan tidak seratus persen anak-anak di Kabupaten Kepulauan Aru ini adalah orang asli Aru yang bisa berbahasa daerah Aru, di mana mereka terdiri dari warga yang berasal dari Tanimbar, Ambon dan daerah lain, yang membuat kami harus berupaya lebih kuat agar anak-anak bisa berbahasa Tarangan Barat,” ujarnya.
Karenisa berharap, melalui kegiatan ini generasi muda untuk tetap menjadikan Bahasa Indonesia di ruang publik, terus mengawal, memperkokoh jati diri bangsa dengan kekuatan bahasa dan sastra Bahasa Indonesia dan daerah serta menyelaraskan sumpah pemuda dalam tindakan nyata yakni dinamika perkembangan jaman dan mampu berperan, menempatkan fungsi guna memperkuat daya saing bangsa.
Dirinya juga mengatakan, tujuan FTBI yakni menghasilkan siswa-siswa yang dapat mengimplementasikan 7 media kreatif, diantaranya Puisi, Dongeng, Stand Up Comedy, Pidato, Tulis Cerpen dan Menyanyi bahasa daerah yang revitalisasi yang akan dipresentasikan dan dinilai oleh tim penilai.
Selain itu lanjut Karenisa, para siswa akan mengikuti seleksi di tingkat sekolah sesuai minat dan bakatnya, dan sekolah akan mewakilkan utusannya pada bidang-bidang tersebut, untuk berkompetisi di FTBI tingkat kabupaten untuk selanjutnya diikutkan ke jenjang berikutnya.
“Jadi outputnya adalah siswa-siswi yang mampu berbahasa daerah melalui 7 media kreatif, nanti tinggal dipilih sesuai minat dan bakat mereka. Jadi kurang lebih mereka mengikuti proses pembelajaran selama 4 bulan di sekolah, kemudian mengikuti seleksi tingkat sekolah, barulah ditentukan siapa yang akan mewakili sekolah untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten,” ungkapnya mengakhiri.
Pada Opening Ceremony tersebut, dilanjutkan dengan Parade 26 sekolah tingkat SD dan SMP. Kemudian pemberian cenderamata dan pertukaran sertifikat kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Aru oleh Balai Bahasa Provinsi Maluku, serta pemberian penghargaan bagi para pemenang lomba.






