Penulis : Bagus Setiawan, S.Tr.Stat.
Statistisi Ahli Pertama, BPS Kabupaten Kepulauan Aru
Inilah kesan yang muncul ketika ada yang mau menggunakan moda transportasi udara dari dan ke Kepulauan Aru, mahalnya tiket pesawat, daripada ke Aru dengan pesawat mending kita ke Jakarta sekalian atau ke kota-kota besar lain, atau ke kota-kota wisata lain, karena dengan harga pesawat ke dan dari Kepulauan Aru sudah lebih dari cukup untuk ke kota-kota lain di Indonesia. Ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Berdasarkan Perpres Nomor 33/2015 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara menetapkan kawasan perbatasan di Provinsi Maluku, meliputi kecamatan perbatasan di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar, dan Maluku Barat Daya.
Dengan ini maka, Kabupaten Kepulauan Aru menjadi salah satu wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Wilayah 3T merupakan daerah yang ditetapkan atas 6 indikator ketertinggalan yakni, perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibilitas, serta karakteristik daerah. Karena itu yang menjadi sasaran sasaran pembangunan daerah 3T dititikberatkan dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan dan peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM), sehingga diharapkan nantinya daerah 3T dapat tumbuh dan berkembang sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
Pada kesempatan ini, penulis akan melihat pada indikator ketertinggalan berupa sarana dan prasarana untuk aksesibilitas transportasi udara, kenapa ? karena untuk menjangkau wilayah yang jauh seperti Kepulauan Aru baik dari pusat pemerintahan negara, pusat pemerintahan provinsi maupun antar wilayah dalam waktu yang pendek/singkat maka pilihan transportasi udara menjadi utama dibanding transportasi laut.
Menurut data dari Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Rar Gwamar Dobo, bandara yang ada memiliki lintasan pesawat dengan panjang 1.400 meter yang hanya bisa untuk jenis pesawat ATR-72 dengan kemampuan mengangkut 72 penumpang. Untuk ruang tunggu bandara yang tersedia juga hanya untuk kapasitas 75 penumpang.
Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kabupaten Kepulauan Aru untuk data transportasi udara selama 4 bulan terakhir menunjukkan pada bulan Desember 2023 tercatat jumlah penumpang berangkat sebanyak 1261 penumpang dengan rata-rata 34 penumpang/penerbangan, bulan Januari tahun 2024 jumlah penumpang berangkat sebanyak 712 penumpang dengan rata-rata 38 penumpang/penerbangan, sebanyak 611 penumpang pada bulan Februari 2024 dengan rata-rata 44 penumpang/penerbangan dan sebanyak 671 penumpang pada bulan Maret 2024 dengan rata-rata 31 penumpang/ penerbangan.
Sedangkan penumpang datang tercatat untuk Desember 2023 sebanyak 961 dengan rata-rata 26 penumpang/penerbangan, Januari 2024 sebanyak 680 dengan rata-rata 36 penumpang/penerbangan , Februari 2024 sebanyak 535 penumpang dengan rata-rata 39 penumpang/penerbangan, Maret 2024 sebanyak 656 dengan rata-rata 30 penumpang/penerbangan. Dari sini terlihat jelas bahwa jumlah penumpang berangkat dan penumpang dating tidak maksimal dengan kapasitas angkut yang tersedia, hanya sekitar 50 persen seat yang terjual.
Kondisi ini telah berdampak kepada jumlah penerbangan yang selama Desember 2023-Februari 2024 sebanyak 4 kali penerbangan dalam seminggu telah berkurang pada Maret hanya ada 3 kali penerbangan dalam seminggu. Tentunya hal ini berpengaruh kepada aksesibilitas dari dan ke Kepulauan Aru melalui transportasi udara sehingga pengembangan ekonomi di Kepulauan Aru pun akan menjadi tidak maksimal. Sebab kemajuan pembangunan suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh konektivitas wilayah tersebut dengan wilayah lain. Semakin baik konektivitas dengan wilayah lain maka semakin berkembang dan maju wilayah tersebut.
Kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat adalah mahalnya tiket pesawat dari dan ke Kepulauan Aru bahkan bertambah mahal dibanding tahun 2023. Mahalnya harga tiket pesawat membuat masyarakat dalam segala urusan antar wilayah lebih memilih dengan transportasi laut yana mana harganya lebih terjangkau walaupun lebih lama waktu perjalanan. Namun, demikian transportasi laut antar wilayah tidak tersedia setiap hari sehingga menghambat banyak urusan masyarakat.
Oleh karena itu, menurut penulis ada beberapa hal yang perlu dilakukan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta (dalam hal ini pihak maskapai). Pertama, perlu untuk lakukan evaluasi kembali harga tiket pesawat Dobo- Ambon. Karena saat ini harga ini dinilai oleh masyarakat terlalu mahal, sebagai perbandingan harga tiket pesawat selama momen hari raya Idul Fitri bulan April 2024 dari Dobo menuju Ambon berkisar Rp 2,8 juta, sedangkan harga tiket pesawat dari Ambon menuju Jakarta yang jaraknya lebih jauh justru memiliki harga yang lebih murah yaitu hanya berkisar Rp 1,9 juta.
Tingginya harga tiket pesawat ini menjadi pertimbangan masyarakata dalam memilih moda transportasi udara sebagaimana tergambar dengan jumlah penumpang pesawat datang maupun berangkat selama 4 bulan terakhir, dan tentunya harapan untuk adanya kunjungan wisatawan atau kunjungan kerja lain yang akan berdampak pengenalan potensi dan pengembangan ekonomi dari dan ke Kepulauan Aru akan rendah.
Mengingat transportasi udara secara komersial yang dapat digunakan Masyarakat dari dan ke Kepulauan Aru hanya ada satu masakapai sampai saat ini maka perlu dilakukan pendekatan dan memberi kesempatan kepada maskapai lain sehingga dapat tercipta kompetisi harga penerbangan dari dan ke Kepulauan Aru sebagaimana sebelumnya ketika ada 2 maskapai yang melayani rute ini harga tiket hanya sekitaran 1 jutaan. Dan mengingat Kepulauan Aru adalah daerah 3T, maka sesuai dengan rencana startegis pemerintah terkait aksebilitas, dapat didorong ke pemerintah pusat untuk adanya subsidi rute penerbangan dari dan ke Kepulauan Aru atau dilakukan penetapan HET tiket pesawat yang lebih terjangkau untuk kepentingan kemajuan wilayah Kepulauan Aru.
Pemerintah daerah dapat mendorong dan mengkoordinasikan dengan pemerintah pusat untuk dilakukan peningkatan sarana bandara berupa pengembangan kapasitas dan modernisasi terminal bandara dan penambahan panjang lintasan menjadi minimal 2500 meter yang dapat dipakai untuk pesawat berkapasitas boeing, yang memiliki daya angkut lebih banyak penumpang. Dengan penumpang yang diangkut dalam jumlah besar untuk sekali penerbangan maka akan mampu menurunkan harga tiket karena beban operasional maskapai akan dapat tertutupi dengan baik sehingga tidak merugi, hal ini menciptakan keuntungan bagi masyarakat pengguna dan pihak maskapai serta pemerintah.
Dengan semakin baik layanan transportasi udara, terjangkau harga tiket pesawat, semakin tinggi penggunanya maka semakin laju aktivitas ekonomi karena terjadi konektivitas dengan wilayah lain dari dan ke Kepulauan Aru.

