Sulit Dapatkan Bio Solar, Pengendara di Dobo Minta Pihak Wewenang Ambil Langkah

oleh -

Dobo, BeritaJar.com: Bahan Bakar Minyak (BBM) berjenis bio solar untuk kendaraan angkutan seperti dump truk dan L300 saat ini langka di Kabupaten Kepulauan Aru khususnya kota Dobo.

Kelangkaan BBM jenis bio solar ini tentunya menjadi keluhan masyarakat setempat lebih khusus pemilik kendaraan dan para pengemudi truk yang kelabakan untuk bisa beroperasi.

Seperti yang dikeluhkan salah satu pengguna kendaraan roda empat, Devis, dirinya mengaku kelangkaan biosolar sendiri sudah terjadi selama satu tahun lebih.

“Kelangkaan ini diakibatkan lantaran adanya pengurangan kuota BBM jenis biosolar ke SPBU – SPBU di Dobo oleh pihak Pertamina,”ungkapnya.

Menurutnya, adanya kendala kelangkaan bio solar ini sangat berimbas kepada pekerjaannya karena untuk penyetoran material seringkali harus terlambat sehingga pihaknya mendapatkan komplain dari klien.

Selain itu juga, operasional truk-truk menjadi sangat terbatas lantaran kesulitan mendapatkan bahan bakar jenis bio solar.

“Mobil dump truk di Dobo ada sekitar 50 unit, L.300 sekitar 50 unit. Ya, kalau Pertamina menyuplai bio solar 5000 liter untuk jatah satu bulan saya rasa cukup. Biar kita kombinasi dengan bahan bakar jenis Dexlite yang mahal itu. Tetapi selama satu tahun lebih kan tidak pernah padahal diharuskan menjual,” kesal Devis.

Olehnya, dirinya meminta pihak pemerintah setempat ambil langkah tersebut persoalan tersebut.

“Saya minta pemerintah daerah atau pihak berwewenang ambil langkah guna menjawab persoalan ini,” pintah Devis.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Aru, Bernardus Atdjas yang ditemui media ini, Selasa (12/9/2023) mengatakan bahwa minyak bersubsidi jenis Bio Solar hanya disuplai oleh dua agen yakni SPBU Kompak (Labodo) dan SPBUN.

Namun menurutnya, setelah dirinya mengecek Bos SPBU Labodo katanya, mereka hanya diberi jatah bio solar sebanyak 5 KL oleh Pertamina sehingga tahun 2023 ini mereka tidak kasi masuk soalnya terlalu sedikit dan dikuatirkan akan muncul adanya kecemburuan dari konsumen.

“Setelah saya cek bos labodo cuman katanya dong dapa jatah 5 KL saja makanya dong tahun ini tidak kase masuk lagi soalnya talalu sadiki nanti separu dapa lalu yang laeng seng kebagian, jadinya dong memilih seng mase masuk tahun ini. Sehingga nanti ada penambahan baru dong terima,” jelas Atdjas singkat.